Read Time: 23 minute(s)

Panduan Lengkap IT Outsourcing untuk Industri Keuangan

Gradient-Circles
Circles
Isi Artikel
Bagikan artikel:
Panduan Lengkap IT Outsourcing untuk Industri Keuangan
Isi Artikel
Bagikan artikel:

Key Takeaways

  • Industri keuangan membutuhkan pendekatan IT yang lebih spesifik karena harus menangani data sensitif dan hampir tidak boleh menoleransi downtime.

  • Digitalisasi yang kian pesat ditunjukkan oleh BI yang mencatat 6,11 miliar transaksi digital. Hal ini tentunya menuntut sistem keuangan yang aman dan andal, serta dibarengi oleh tata kelola keamanan dan perlindungan data yang canggih.

  • Tim outsourcing sendiri berperan dalam melengkapi kebutuhan tim in-house, bukan menggantikannya. Vendor akan menangani operasional rutin dan spesialisasi untuk proyek khusus, sementara tim internal bisa fokus berinovasi dan berkreasi.

IT outsourcing untuk industri keuangan adalah praktik menggunakan layanan vendor pihak ketiga untuk menangani operasional lembaga/institusi keuangan.

Industri keuangan sendiri merupakan salah satu industri yang paling banyak terlibat dalam menangani data penting pengguna. Di sisi lain, industri ini juga dituntut untuk terus meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas inklusivitas jangkauannya, terutama di tengah pusaran digitalisasi yang makin kencang tiap tahunnya.

Hasil rapat dewan Gubernur Bank Indonesia pada September 2026 menyebutkan bahwa volume transaksi pembayaran digital di Indonesia sudah mencapai 6,11 miliar transaksi per Agustus 2026. Angka tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 40,36% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Lonjakan angka yang masif tersebut menunjukkan bahwa kelancaran dan kenyamanan transaksi digital juga harus dibarengi oleh tata kelola keamanan dan perlindungan data konsumen yang baik. 

Output tersebut hanya bisa dicapai dengan dukungan sistem dan teknologi yang canggih agar kerahasiaan informasi pengguna bisa tetap terjaga. 

Oleh karena itulah, salah satu alternatif yang bisa digunakan untuk mencapai output tersebut adalah lewat layanan IT outsourcing, khususnya dalam peningkatan skalabilitas, penguatan keamanan siber, dan pengembangan software canggih.

Artikel ini akan mengupas tuntas seluk-beluk IT outsourcing untuk industri keuangan mulai dari pengertian, tantangan, manfaat, hingga layanannya.

Apa Itu IT Outsourcing untuk Industri Keuangan?

IT outsourcing untuk industri keuangan adalah praktik ketika bank, perusahaan fintech, pegadaian, atau lembaga/institusi keuangan lain menyerahkan sebagian operasional teknisnya ke vendor pihak ketiga. 

Sektor keuangan sendiri beroperasi di bawah regulasi yang sangat ketat dan hampir tidak menoleransi adanya downtime, sehingga proses alih dayanya membutuhkan talent dengan spesialisasi tinggi dan spesifik dibanding industri lain.

Cakupan industri keuangan sendiri sangat luas, yang akan dirangkum pada tabel berikut:

Jenis Industri KeuanganKebutuhan IT
PerbankanMemiliki sistem paling kompleks mulai dari core banking, mobile banking, hingga integrasi dengan sistem pembayaran. Contohnya adalah: Bank konvensional, bank syariah, dan bank digital
FintechSangat bergantung pada produk digital karena menuntut pertumbuhan yang cepat, sehingga membutuhkan skalabilitas yang tinggi. Contohnya adalah: P2P lending (pinjaman daring), E-wallet, dan paylater
PegadaianFokus utamanya adalah digitalisasi layanan fisik seperti sistem taksiran aset digital atau aplikasi untuk menabung emas
Perusahaan pembiayaan (multifinance)Kebutuhan IT menitikberatkan pada otomatisasi siklus end-to-end. Contohnya adalah Loan Origination System (LOS) untuk mempercepat proses pengajuan atau integrasi API langsung ke SLIK OJK untuk analisis kelayakan
Asuransi dan dana pensiunDigitalisasi diperlukan untuk membuat platform yang dapat menangani jutaan pengguna. 
Pasar modal Sistem perdagangan saham membutuhkan infrastruktur low-latency dengan kapabilitas high-frequency karena keterlambatan dalam hitungan milidetik saja bisa menimbulkan kerugian besar
Koperasi simpan pinjamKarena masih cukup tradisional, kebutuhan digitalnya bertumpu pada migrasi dari pembukuan atau spreadsheet manual ke Software-as-a-Service (SaaS) khusus koperasi.

Tantangan IT Outsourcing untuk Industri Keuangan 2026

IT outsourcing dapat membantu industri keuangan bukan hanya pada kapasitas operasionalnya saja, tapi juga pada aspek efisiensi dan pengalaman pengguna.

Meski demikian, industri keuangan memiliki karakteristik yang cukup kompleks, tapi di sisi lain juga sering menjadi sasaran empuk para peretas. Hal inilah yang akan menciptakan tantangan tersendiri bagi IT outsourcing untuk industri keuangan.

Berikut ini adalah tantangan IT outsourcing untuk industri keuangan 2026:

1. Ancaman Serangan Siber dan Pembobolan Data

Dunia finansial adalah salah satu sektor yang menjadi target utama para pelaku kejahatan siber, baik dari faktor eksternal maupun internal. Hal ini disebabkan karena perusahaan atau lembaga keuangan memiliki aset digital yang mudah dimonetisasi.

Bentuk serangannya bisa bermacam-macam, mulai dari pencurian kredensial data pengguna yang bocor hingga phishing berbasis deepfake. Kompleksitas ancaman ini terkadang tidak bisa diatasi jika hanya mengandalkan tim in-house perusahaan saja.

Berdasarkan data dari laporan IBM yang berjudul “Cost of a Data Breach” (2026), kerugian akibat pembobolan data di industri keuangan mencapai 6,29 juta dolar AS di tahun 2026.

Laporan “Data Breach Investigation Report” (2026) dari Verizon juga menunjukkan dari 3.809 kasus pelanggaran keamanan yang terdokumentasi pada sektor keuangan, sekitar 1.300 berasal dari kebocoran data terkonfirmasi. Dari angka tersebut, sekitar 88% serangan berasal dari pihak eksternal.

Temuan dari IBM dan Verizon tersebut mengindikasikan bahwa mengandalkan tim internal perusahaan saja tidak cukup untuk bisa menanggulangi serangan siber dengan motif yang makin canggih setiap tahunnya. 

2. Kompleksitas Kepatuhan Regulasi

OJK telah menerbitkan POJK No.11/POJK.03/2022 yang meregulasi implementasi IT oleh bank secara umum. Regulasi ini memperluas cakupan implementasi IT dari sekadar kelancaran operasional menuju manajemen risiko yang holistik dan ketahanan siber.

Institusi seperti bank diwajibkan untuk memiliki rencana recovery atau backup yang aktif dengan pengujian keamanan siber secara berkala.

Lalu aturan OJK yang terbaru yaitu PADK OJK No.1/2026, khususnya pada BAB V bagian B.3 yang mengatur kerja sama dengan Pihak Penyedia Jasa TI (PPJTI), mensyaratkan bahwa jika bank menggunakan jasa vendor baik secara onshore/offshore, maka pihak OJK tetap harus memiliki akses penuh untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan.

Meskipun dalam aturan tersebut bank tetap bertanggung jawab penuh atas tata kelola dan manajemen risiko, tapi hal ini menciptakan tantangan khusus bagi vendor outsourcing, khususnya dalam bekerja dan beroperasi di bawah framework yang telah ditetapkan dengan ketat oleh OJK.

3. Modernisasi dan Integrasi Teknologi Terbaru

Beberapa institusi/lembaga keuangan masih berkutat pada arsitektur monolitik yang kaku dan kurang adaptif dengan perkembangan digitalisasi. Padahal, tuntutan digitalisasi sendiri merupakan reaksi langsung dan natural atas tingginya demand masyarakat dan kompetisi pasar.

Tentu saja tidak semua institusi keuangan masih mengandalkan teknologi lama. Namun, penggunaan teknologi yang sudah usang tentunya akan membuat proses modernisasi dan implementasi teknologi baru dari vendor akan semakin sulit.

4. Keterbatasan Talent IT dengan Keahlian Spesifik

Industri keuangan tentunya membutuhkan skillset IT yang lebih spesifik daripada “sekadar” software developer pada umumnya. 

Bahkan, di era digitalisasi yang diregulasi dengan ketat ini, industri keuangan membutuhkan tenaga dengan keahlian multidisipliner, tapi juga memiliki spesialisasi spesifik. 

Kebutuhan tersebut didorong oleh pentingnya transformasi perusahaan keuangan ke sistem digital yang lebih terintegrasi guna meningkatkan efisiensi operasional.

Namun, World Economic Forum (WEF) justru merilis survey dalam “Future of Jobs Report” (2025) bahwa 63% dari pemberi kerja mengatakan bahwa kesenjangan dan kelangkaan talent dengan skillset khusus merupakan hambatan terbesar bagi transformasi bisnis.

Selaras dengan itu, Global Institute of Credit Professionals (GICP) juga menemukan bahwa 66% organisasi keuangan menyatakan bahwa kelangkaan talent adalah hambatan utama menuju transformasi digital.

Dari kedua laporan tersebut bisa disimpulkan bahwa institusi keuangan akan sulit beradaptasi di era digital ini tanpa akses ke tenaga ahli yang mumpuni.

Vendor IT outsourcing juga akan kesulitan merekrut talenta IT karena harus berebut bukan hanya dengan vendor lain, tapi juga dengan perusahaan-perusahaan teknologi yang disokong modal besar.

5. Otomatisasi dan Integrasi AI

Jika diterapkan dengan benar, AI memang dapat meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional dalam menangani jutaan transaksi yang kompleks. Hal itu ditunjukkan oleh data dari IBM yang melaporkan bahwa pemanfaatan otomatisasi dan AI berkorelasi dengan berkurangnya kerugian akibat pembobolan data sekitar 1,93 juta dolar AS.

Di sisi lain, AI nyatanya menjadi pedang bermata dua, karena peretas pun kini juga menggunakan AI untuk melancarkan aksinya. Dalam laporan IBM yang sama, sekitar 1 dari 4 kasus pembobolan berbahaya merupakan bersifat AI-enabled. Contoh yang paling terkenal adalah deepfake, yang menyumbang sekitar 45% insiden berbasis AI.

Oleh karena itulah perusahaan di sektor finansial harus menerapkan protokol yang ketat terkait penggunaan AI dengan sistem keamanan siber yang terintegrasi.

Vendor outsourcing juga harus mampu menyesuaikan dengan regulasi ketat dan skillset yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Kenapa IT Outsourcing Penting Bagi Industri Keuangan?

Walau bukan tergolong industri teknologi secara eksklusif, industri keuangan di era modern ini sangat membutuhkan infrastruktur teknologi yang canggih dibanding industri non-teknologi lain.

Jika beberapa sektor lain bisa mengandalkan IT outsourcing hampir sepenuhnya untuk urusan teknologi dan informasi mereka, maka perusahaan keuangan harus menyeimbangkan kemampuan tim in-house dengan tim yang dialihdayakan untuk bisa menciptakan stabilitas sambil terus berinovasi.

Oleh karena itulah, ada kalanya beberapa institusi keuangan tidak bisa mengandalkan tim IT internal sepenuhnya untuk beberapa fungsi spesifik. Hal ini melahirkan beberapa alasan mengapa kehadiran IT outsourcing begitu penting bagi industri keuangan:

1. Sistem IT Berhubungan Langsung dengan Kepercayaan Pengguna

Tidak seperti sektor lain yang hanya menjadikan platform digital sebagai komplementer, infrastruktur teknologi di industri keuangan berhubungan langsung dengan kepuasan pelanggan.

Sistem teknologi lah yang mengontrol seluruh mobilitas aset nasabah, sehingga keamanan dan keandalan aplikasi digital menjadi kewajiban yang tidak bisa dikompromikan.

Data dari Information Technology Intelligence Consulting yang berjudul “Hourly Cost of Downtime” (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 90% perusahaan skala menengah-besar di seluruh dunia mengalami kerugian akibat downtime hingga 300 ribu dolar AS per jam.

Karena potensi kerugian yang fantastis itulah perusahaan keuangan sering kali harus beralih ke vendor IT pihak ketiga untuk menciptakan sistem keamanan yang sistematis, ketat, dan berkelanjutan. 

Lewat jasa outsourcing, institusi keuangan bisa menerapkan monitoring infrastruktur dan mekanisme pemulihan/backup yang terotomatisasi untuk mengurangi waktu downtime secara drastis. 

2. Kebutuhan Talent IT yang Sangat Beragam dan Terspesialisasi

Arsitektur bank digital atau platform fintech modern sangatlah kompleks karena membutuhkan skillset yang sangat beragam.

Sebagai contoh, aplikasi m-banking atau e-wallet modern harus memiliki banyak talent IT seperti:

  • Cloud infrastructure architect: Menangani operasional multizona.
  • Backend engineer: Menggunakan bahasa seperti Java, Go, atau Rust untuk menangani perputaran transaksi.
  • Database optimization specialist: Memastikan kecepatan latensi query dalam hitungan milidetik.
  • Quality Assurance (QA) engineer: Membangun framework testing yang kokoh.
  • DevOps: Menjaga agar peluncuran dan integrasi teknologi tetap lancar dan berkelanjutan.
  • Cyber security engineer: Menjaga keamanan siber dari potensi serangan oleh peretas.

Membangun dan melatih tim IT dengan semua kapasitas tersebut tentu akan sangat mahal dan tidak efisien, kecuali jika ada sokongan dana yang besar dari perusahaan induk atau negara.

Kabar baiknya adalah perusahaan sering kali tidak perlu membutuhkan semua skillset tersebut dalam waktu yang sama. Biasanya, perusahaan hanya butuh skillset tersebut untuk proyek yang spesifik.

Misalnya, cloud infrastructure architect akan sangat penting dalam fase awal cloud migration dari on-premises ke infrastruktur cloud. Namun, peran tersebut tidak akan terlalu dibutuhkan ketika sudah mencapai kesiapan yang cukup matang.

Oleh karenanya IT outsourcing berperan penting dalam menyediakan tenaga ahli khusus yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan proyek ongoing perusahaan tanpa harus terbebani biaya rekrutmen jangka panjang.

3. Inovasi Harus Berjalan Tanpa Mengganggu Operasional

Di industri finansial, khususnya perbankan atau fintech terdapat dua dikotomi pendekatan operasional:

  • Run the Bank (RTB): Berfokus pada mengeksekusi dan menjaga stabilitas operasional harian yang sudah berjalan. Contohnya seperti memproses transaksi, mengelola rekening, atau memastikan kepatuhan regulasi.
  • Change the bank (CTB): Berfokus pada transformasi dan inovasi untuk mendukung pertumbuhan di masa depan. Contohnya adalah mengembangkan aplikasi atau fitur baru atau menerapkan teknologi terkini.

Laporan dari Deloitte UK yang berjudul “The Paradox of Plenty” (2024) menunjukkan bahwa 74% dari anggaran teknologi di perbankan dan pasar modal Inggris dialokasikan untuk pendekatan RTB. Tujuannya adalah menjaga operasional tetap lancar dengan investasi di bidang tata kelola, lisensi software, serta maintenance.

Padahal, investasi untuk CTB juga tidak kalah penting agar institusi keuangan bisa tetap kompetitif. Walau tidak mutlak, tapi ada baiknya agar gap rasio investasi antara RTB dan CTB tidak terlalu jauh.

Salah satu cara untuk menjembatani hal tersebut adalah lewat layanan vendor outsourcing, khususnya pada aspek RTB untuk operasional harian yang rutin dan bisa diotomatisasi. IT outsourcing dapat mengeksekusi operasional harian dengan biaya yang lebih terjangkau, sehingga tim internal IT bisa lebih bebas dalam berinovasi.

4. Pengembangan Teknologi Harus Beradaptasi dengan Perubahan Regulasi

Sistem keuangan global dirancang dengan regulasi yang sangat ketat guna menjaga stabilitas ekonomi secara makro. Regulasi ini terus berubah seiring waktu dan sifatnya tidak bisa diganggu gugat.

Oleh karena itu perusahaan keuangan sering kali mengandalkan jasa IT outsourcing, khususnya dalam bidang RegTech (Regulatory Technology). Dengan begitu, institusi bisa terus berkembang tanpa khawatir terbentur masalah legal.

Perlu dicatat, meski menggunakan layanan pihak ketiga, pihak perusahaan tetap menanggung penuh tanggung jawab regulasi dan hukum.

5. Kompetisi Layanan Digital Sangat Ketat

Pergerakan barang dan jasa serta perputaran uang akan semakin cepat setiap tahunnya. Jadi, perusahaan dan retail tidak bisa menoleransi layanan bank yang lamban dan kurang intuitif bagi pelanggan. Hal ini menciptakan iklim kompetisi yang sangat ketat di dalam lingkup industri keuangan.

Namun, memelihara tim internal nyatanya membutuhkan waktu lama dan proses yang berjenjang. Menemukan engineer yang tepat bahkan bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk setiap orang karena kompetisi pasar yang ketat.

Di konteks ini, IT outsourcing dapat mengeliminasi sebagian besar proses perekrutan tersebut. Jika perusahaan memilih IT outsourcing dengan tepat, mereka akan langsung mendapatkan engineer berkualitas yang bisa langsung bekerja dan beradaptasi dengan lancar.

Manfaat IT Outsourcing untuk Industri Keuangan

Tujuan utama transformasi teknologi di industri keuangan adalah untuk mengonversi perubahan ritme operasional menjadi manfaat bisnis yang bisa diukur. Contohnya adalah efisiensi keuangan, aplikasi/software yang stabil, dan kelincahan dalam adaptasi teknologi.

Salah satu cara untuk mencapai manfaat tersebut adalah lewat vendor outsourcing yang akan meningkatkan produktivitas tim internal. 

Berikut ini adalah beberapa manfaat menggunakan layanan IT outsourcing untuk industri keuangan:

1. Mempercepat Pengembangan dan Peluncuran Layanan Digital

Agar tetap kompetitif, kecepatan dalam time-to-market menjadi sangat krusial dalam industri keuangan. Namun, hanya dengan mengandalkan tim in-house saja kadang tidak cukup, terlebih lagi jika mereka juga harus disibukkan dengan maintenance harian.

Menambah tim eksternal seperti QA specialist atau DevOps dapat meningkatkan kapasitas dalam eksekusi proyek, terutama jika ada kerja sama yang baik dengan tim in-house.

Salah satu perusahaan software AS yaitu Red Hat pernah merilis studi kasus di mana mereka bisa membantu Bank Raiffeisen di Bosnia dalam mempercepat time-to-market dari yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan ke hitungan minggu saja.

Bank Raiffeisen sendiri disebutkan sudah memakai infrastruktur monolitik yang tertinggal selama 25 tahun. Namun setelah mereka bekerja sama lewat layanan konsultasi dan menggunakan platform yang dirancang oleh Red Hat, mereka bisa meluncurkan aplikasi dalam satu pekan saja, sekaligus membebaskan tim in-house mereka dari pekerjaan monoton.

Walau studi tersebut terjadi di Bosnia, tapi temuan tersebut mengindikasikan bahwa kecepatan time-to-market bisa dicapai jika perusahaan berkolaborasi dengan vendor outsourcing yang tepat.

2. Mengoptimalkan Biaya dan Alokasi Sumber Daya

Membangun tim IT in-house memerlukan waktu yang lama dan biaya yang sangat mahal, yang mana alasan tersebut juga menjadi faktor pendorong utama perusahaan untuk menggunakan jasa outsourcing.

Dengan membangun tim internal, perusahaan harus memikirkan biaya berupa gaji pokok, pajak, tunjangan, BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan, hingga lisensi software.

Guna memberikan gambaran yang lebih komprehensif, berikut adalah tabel perbandingan antara tim in-house dengan vendor outsourcing:

Jenis BiayaIn-houseOutsourcing
RekrutmenMembutuhkan biaya untuk memasang iklan di platform pencari kerja hingga proses onboardingHampir seluruhnya ditangani oleh vendor
TunjanganTerdapat banyak komponen seperti gaji pokok, pajak, BPJS, THR, hingga pesangonDalam Permenaker 7/2026 yang menyoal pekerjaan alih daya, tertera jelas dalam pasal 4 ayat 2 bahwa hak dan perlindungan karyawan outsourcing adalah tanggung jawab vendor. Meski demikian, ayat 3 menyebutkan bahwa perusahaan juga harus memastikan vendor memenuhi hak pekerja
TrainingMembutuhkan investasi program pelatihan dan software yang tidak sedikitVendor sudah menyediakan talent yang dibutuhkan secara spesifik oleh perusahaan
Tools dan softwareTerdapat alokasi biaya untuk hardware, ruang kantor, dan biaya langganan atau lisensi softwareMinim jejak fisik, karena vendor yang menangani technical stack nya

3. Memperluas Akses ke Berbagai Macam Spesialisasi

Industri keuangan harus bersaing ketat dengan sektor lain seperti teknologi dan startup untuk memperebutkan talent IT terbaik, khususnya di bidang arsitektur cloud, AI, dan cyber security.

Sebenarnya akses terhadap talent IT bisa cukup luas jika perusahaan berani mendatangkan tenaga ahli dari luar negara. Namun, merekrut ekspatriat tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Di sinilah peran IT outsourcing, khususnya dalam model offshore atau nearshore. IT outsourcing dapat menyediakan expertise yang sangat langka di negara tersebut.

Semisal ada bank yang ingin membuat sistem transaksi real-time membutuhkan software architect yang sudah berpengalaman dalam membuat sistem yang kompleks. Merekrut software architect akan membutuhkan waktu lama karena spesialisasinya sangat langka dan mahal.

Jika perusahaan mengalihdayakan tugas tersebut ke vendor yang sudah berpengalaman dalam merancang arsitektur teknologi finansial, maka mereka bisa langsung memulai atau melanjutkan proyeknya tanpa terkendala.

Namun, tentu tidak semua vendor mampu menyediakan kompetensi yang dibutuhkan. Perusahaan tetap harus menerapkan strategi dan cara memilih IT outsourcing yang tepat untuk menyelaraskan kompetensi dengan tim in-house.

4. Meningkatkan Kualitas dan Keandalan Aplikasi

Di sektor keuangan, kualitas aplikasi adalah salah satu faktor utama kepercayaan pelanggan. Downtime dan kegagalan transaksi dalam hitungan detik saja bisa mengakibatkan kerugian yang besar dari sisi finansial dan hukum. 

Pada konteks ini, tim in-house bukan berarti tidak kompeten. Hanya saja, mengandalkan tim internal sepenuhnya berpotensi menimbulkan bias ketika pengujian kode, sehingga software yang dirilis masih belum sempurna.

Jika perusahaan menggunakan QA engineer dari vendor, maka mereka akan menyajikan sudut pandang lain yang akan memastikan bahwa struktur kodenya sudah benar-benar aman dan sesuai sebelum masuk tahap perilisan.

5. Meningkatkan Fleksibilitas dan Skalabilitas

Tim internal dari divisi manapun pasti akan menghadapi jenis pekerjaan yang monoton dengan siklus yang sama, tak terkecuali divisi IT. Menjaga operasional harian yang statis, tapi juga harus disibukkan dengan proyek yang membutuhkan inovasi sangat kurang efisien dari sisi biaya.

IT outsourcing dapat menyediakan tenaga ahli yang fleksibel, sehingga perusahaan bisa menyesuaikan kapasitas tim berdasarkan proyek spesifik dan volume workload.

Fleksibilitas ini memungkinkan institusi keuangan untuk meluncurkan aplikasi e-wallet atau m-banking yang kompleks dalam waktu yang lebih singkat.

Setelah sistem sudah stabil dan turun ke level maintenance, tim vendor outsourcing bisa menurunkan jumlah personel IT-nya dalam proyek tersebut tanpa harus menanggung beban PHK dan pesangon. 

Meski demikian, perlu dicatat bahwa pengurangan kapasitas karyawan tersebut hanya bisa dilakukan jika sudah tertulis jelas di dalam kontrak.

Selain itu, pengurangan personel hanya cocok untuk institusi keuangan dengan tech stack yang sudah cukup canggih dan menjadikan outsourcing hanya untuk mendongkrak skalabilitas. Jika tidak, perusahaan akan kehilangan potensi transfer pengetahuan di akhir proyek.

Layanan IT Outsourcing untuk Industri Keuangan

Industri keuangan pasti memiliki visi internal yang sarat akan filosofi perusahaan itu sendiri, sehingga vendor eksternal harus bisa mengeksekusi pekerjaannya tanpa harus mengkompromikan visi perusahaan keuangan tersebut.

Oleh karena itulah layanan outsourcing untuk industri keuangan sebaiknya bergerak dalam model staff augmentation, di mana pihak institusi keuangan tetap memiliki kontrol penuh atas operasional, sementara vendor menyediakan talent yang siap mengintegrasikan kemampuannya ke dalam tim internal.

Vendor IT outsourcing terkemuka seperti PT Lawencon menawarkan banyak sekali layanan dan spesialisasi seperti back-end/front-end developer, mobile developer, QA tester, IT security specialist, DevOps engineer, project manager, business analyst, hingga system analyst.

Walau demikian, setidaknya ada beberapa layanan krusial yang benar-benar dibutuhkan industri keuangan:

1. Software Development

Modernisasi sistem lama yang masih bersifat monolitik ke sistem digital terintegrasi masih menjadi salah satu hambatan struktural di sektor finansial. Tanpa adanya modernisasi, institusi besar seperti bank bahkan bisa kewalahan menghadapi fintech yang lebih agile.

Di ekosistem microservice, aplikasi yang berat akan dipecah jadi komponen layanan terpisah yang dapat berkomunikasi satu sama lain lewat API. Hal ini memungkinkan pengembangan fitur mikro seperti pinjaman atau autentikasi biometrik, tanpa harus merusak stabilitas pada infrastruktur inti aplikasi.

Namun, semua itu membutuhkan tenaga developer yang ahli baik itu back-end, front-end, dan mobile. Dalam hal ini, mereka memiliki peran masing-masing yaitu:

  • Back-end developer: Mengembangkan API yang aman dan scalable yang dapat menghubungkan aplikasi mobile ke sistem inti internal software. Back-end developer juga memastikan kepatuhan terhadap regulasi Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) dari Bank Indonesia.
  • Front-end developer: Membangun desain UI yang interaktif dan intuitif agar mudah digunakan semua orang.
  • Mobile developer: Membuat aplikasi seperti fintech atau m-banking yang kompatibel untuk perangkat mobile dengan bahasa seperti Kotlin atau Swift.

2. QA dan Software Testing

Software banking, fintech, atau paylater memiliki profil risiko yang sangat tinggi. Jika ada sedikit saja glitch atau downtime saat peak hour, maka kerugian finansialnya bisa sangat tinggi. Karena itulah proses QA dan software testing adalah peran yang krusial dan wajib hadir saat pengembangan aplikasi.

Ekosistem aplikasi banking digital sendiri sangatlah kompleks dengan arsitektur yang berlapis mulai dari front-end web, aplikasi mobile, sistem autentikasi multifaktor, hingga gateway pembayaran pihak ketiga. 

Di sinilah peran QA engineer dan software tester menjadi sangat krusial. Kedua peran ini akan melakukan rangkaian pekerjaan berupa:

  1. Functional testing: Memverifikasi fungsi spesifik pada sistem inti yang beroperasi sesuai dengan logika bisnis.
  2. Integration testing: Memastikan bahwa modul-modul yang saling terpisah dapat mengkomunikasikan data satu sama lain secara akurat lewat API internal.
  3. Performance & load testing: Mensimulasikan kasus lonjakan trafik ekstrem guna menjamin proses transaksi tidak akan crash ketika peak season.
  4. Regression testing: Berperan sebagai jaring pengaman ketika ada kode aplikasi yang diupdate untuk memverifikasi fitur baru atau perbaikan bug.

3. IT Security

Keamanan siber adalah kunci bertahan hidup bagi seluruh perusahaan/institusi keuangan. Selain karena sektor ini adalah salah satu sasaran empuk serangan siber, IT security juga penting dalam mematuhi regulasi OJK, yaitu POJK 11/2022 dan PADK 1/2026.

Aturan tersebut mensyaratkan seluruh bank digital dan komersial untuk mengimplementasikan sistem keamanan yang kokoh, membuat protokol keamanan data pengguna yang ketat, dan sistem manajemen kerentanan yang proaktif. 

Talent IT security dari vendor outsourcing akan mendukung tim internal dengan mengidentifikasi titik lemah, menerapkan kontrol keamanan yang canggih, dan memperkuat proses pengembangan aplikasi secara menyeluruh. 

Contoh tugas hariannya adalah me-review source code, mengidentifikasi adanya miskonfigurasi dalam infrastruktur cloud, mengamankan API, hingga membantu memenuhi kepatuhan regulasi OJK.

Namun perlu dicatat bahwa peran IT security yang sesungguhnya adalah mendukung kapabilitas tim internal itu sendiri, bukan untuk melayani keamanan siber perusahaan selama 24/7.

4. DevOps

Di bawah naungan regulasi yang kuat, software yang dikembangkan oleh industri keuangan harus bisa diandalkan dan dapat diaudit secara ketat. Hanya saja, proses peluncuran software secara manual sangat rentan terhadap human error, sehingga dapat berisiko mengurangi kualitas produk akhirnya.

DevOps engineer sendiri berperan dalam menjembatani peran software development dan IT operation agar peluncuran software bisa berlangsung cepat, aman dan scalable. 

DevOps bekerja dalam framework “Continuous Integration and Continuous Deployment” (CI/CD). Sesuai namanya, framework ini memungkinkan eksekusi QA testing secara terotomatisasi sekaligus melakukan scanning jika ada celah kerentanan.

Jika semua proses tersebut sudah melewati validasi yang ketat, barulah software bisa masuk ke dalam tahap peluncuran. 

5. Business Analyst & System Analyst

Arsitektur software keuangan yang kompleks hanya bisa dibangun lewat blueprint detail yang dapat berfungsi sesuai regulasi dan keinginan user. Tanggung jawab inilah yang diemban oleh business dan system analyst.

Business analyst berfungsi sebagai jembatan antara eksekutif bisnis dengan tim IT teknis. Jadi, seorang business analyst harus memahami kebutuhan pasar, menciptakan customer journey yang baik, dan mendokumentasikan aturan bisnis yang tepat dan presisi. 

Di sisi lain, system analyst akan menggunakan persyaratan bisnis yang dibuat oleh business analyst untuk membuatnya ke dalam sistem yang konkret. 

Tips Memilih IT Outsourcing yang Tepat untuk Industri Keuangan

Bagi industri keuangan, memilih IT outsourcing yang tepat adalah perkara kelangsungan operasional bisnis sehari-hari. Perusahaan harus menerapkan framework yang komprehensif untuk mengkaji pilihan vendor yang tersedia di luar sana.

Artikel ini akan menjelaskan apa saja tips memilih IT outsourcing yang tepat untuk industri keuangan:

1. Evaluasi Pengalaman Vendor di Industri Keuangan

Saat menilai pengalaman vendor, yang harus dikaji adalah exposure dan bukti kesuksesan vendor saat bergelut di industri keuangan. Institusi keuangan harus meminta portofolio, studi kasus detail, dan referensi klien lain yang terverifikasi untuk menggunakan jasa suatu vendor.

Lebih jauh lagi, perusahaan harus menganalisis skala, performa, dan kompleksitas proyek yang pernah ditangani oleh vendor. Hal ini disebabkan karena spesialisasi dan kebutuhan IT di bidang keuangan bisa sangat spesifik.

Vendor yang berhasil mengembangkan aplikasi untuk startup P2P lending (pinjaman daring) belum tentu memiliki kapabilitas yang sama saat membangun sistem bank komersial.

Selain itu, perusahaan juga harus bisa membuat batasan yang jelas dalam membandingkan pengalaman vendor di sektor keuangan dan sektor umum lain. Berikut adalah perbandingannya:

Kriteria EvaluasiPengalaman IT Sektor UmumPengalaman IT Sektor Finansial
System ArchitectureAplikasi web general, struktur monolitik, dan infrastruktur cloud dasarEkosistem microservice, transaksi dengan trafik tinggi
Penanganan DataDatabase user standar, enkripsi dasar, ketergantungan pada penyedia cloudKepatuhan PCI DSS yang ketat, manajemen kriptografi yang canggih
Domain keterampilanE-commerce, autentikasi dasar, manajemen inventori standarGateway pembayaran, pelaporan regulasi otomatis

2. Pastikan Kompetensi Outsourcing Sejalan dengan Kebutuhan Proyek

Kompetensi di sini harus mencakup pengalaman vendor dalam menggunakan teknologi yang dibutuhkan serta pemahaman mereka terhadap proses bisnis.

Sebagai contoh, kemahiran tenaga outsourcing dalam bahasa pemrograman seperti Java, Go, atau Rust bukanlah metrik yang cukup memuaskan. Mereka juga harus memahami pola arsitektural yang canggih untuk menjaga konsistensi data di seluruh jaringan. Pastikan juga vendor memiliki kompetensi dalam memahami siklus transaksi.

3. Evaluasi Standar Keamanan Data dan Informasi Vendor

Perusahaan harus melakukan review secara komprehensif kebijakan keamanan informasi dan protokol akses yang diterapkan oleh vendor.

Salah satu standar global yang paling kuat adalah ISO/IEC 27001 yang menerapkan spesifikasi detail dalam mengembangkan, mengimplementasi, dan mengelola sistem keamanan. 

Perlu dicatat bahwa perusahaan tetaplah pihak yang bertanggung jawab secara hukum dan regulasi atas kebocoran data. Oleh karena itulah perusahaan harus memastikan vendor menerapkan standar yang telah disebutkan dengan ketat.

4. Verifikasi Kepatuhan Vendor Terhadap Regulasi

Persis seperti poin sebelumnya, bank tidak bisa melepas tanggung jawab begitu saja atas manajemen risiko dan tata kelola hanya karena mereka menyerahkannya ke IT outsourcing. Dengan begitu, perusahaan harus memastikan seluruh aktivitas vendor mematuhi hukum dan aturan yang berlaku,

Lembaga keuangan harus memiliki aturan tertulis yang jelas dalam memilih, menguji (due diligence), dan mengevaluasi kinerja vendor secara berkala. Jika ada perubahan besar pada struktur atau operasional vendor, maka lembaga keuangan wajib menilai kembali dampak risikonya.

Hal ini berlaku pula untuk vendor dari luar negeri (offshore), bahwa vendor tetap wajib menjamin secara hukum bahwa OJK tetap memiliki hak dan akses penuh untuk melakukan audit menyeluruh.

5. Tinjau SLA, KPI, dan Mekanisme Kinerja

Pembuatan kontrak SLA (Service Level Agreement) dan KPI pada vendor outsourcing tidak boleh menggunakan tolok ukur yang sama untuk semua kasus, melainkan harus disesuaikan dengan layanannya.

Misal, untuk layanan staff augmentation, maka fokusnya adalah kualitas tenaga ahli dan pembuatan kode untuk software. Contoh KPI-nya bisa berupa tingkat resign karyawan di bawah 10%, atau persentase bug yang lolos sesudah peluncuran aplikasi.

Hal ini sangat penting bagi perusahaan finansial karena vendor dengan turnover tinggi akan sangat merugikan, yang mana perusahaan harus kehilangan potensi transfer pengetahuan dari vendor.

Transformasi Digital Industri Keuangan Jadi Lebih Mudah Bersama PT Lawencon Internasional!

Banner Lawencon

Ingin tetap adaptif dan kompetitif di tengah arus digitalisasi yang kian masif ini, tapi terkendala arsitektur monolitik yang kuno? Tenang saja, serahkan urusan transformasi digital Anda ke PT Lawencon Internasional.

Lawencon sudah berpengalaman dalam bekerja sama dengan lebih dari 15 klien di sektor keuangan mulai dari bank BUMN, bank swasta, hingga penanaman modal.

Tim software developer dari Lawencon baik Back-end dan front-end memiliki keahlian luas dalam berbagai bahasa pemrograman dengan pengalaman dalam menangani aplikasi kompleks.

Selain itu, tim cyber security dari Lawencon juga memiliki pemahaman regulasi baik lokal maupun global sehingga akan membantu Anda dalam memenuhi persyaratan regulasi yang berlaku.

Jadi tunggu apa lagi? Hubungi kami sekarang juga!

Kesimpulan

Industri keuangan membutuhkan pendekatan teknologi yang berbeda dibanding industri lain karena harus berhubungan dengan data dan informasi sensitif pengguna yang sangat diatur ketat oleh regulasi.

Namun, mengandalkan tim in-house belaka kerap kali kurang mampu dalam mengoptimalisasi inovasi di bidang IT karena tim tetap harus menanggung beban operasional harian.

Oleh karena itulah IT outsourcing berperan penting dalam mendukung kinerja dan kepatuhan regulasi perusahaan saat ada proyek pengembangan software baru secara terstruktur.

Dengan begitu, perusahaan tetap bisa menyeimbangkan aspek RTB dan CTB secara bersamaan tanpa mengurangi kualitas salah satunya.

Frequently Asked Questions (FAQ)

1. Apa Itu IT Outsourcing?

IT outsourcing adalah praktik di mana suatu perusahaan mengalihdayakan sebagian atau seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi dan informasi ke vendor outsourcing pihak ketiga.

2. Siapa yang Membayar Gaji Karyawan Outsourcing?

Vendor adalah pihak yang berkewajiban dalam memenuhi setiap hak karyawan outsourcing mulai dari gaji pokok, BPJS, lemburan, hingga THR. Namun, dana untuk membayar kewajiban tersebut memang didapatkan dari klien yang menggunakan layanan vendor tersebut.

3. Berapa Lama Kontrak Outsourcing?

Tergantung pada perjanjian kontrak yang disepakati. Berdasarkan PP 35/2021 Pasal 18 ayat 1, hubungan kerja antara vendor dengan karyawannya didasarkan pada PKWT atau PKWTT. Pada pasal 8 ayat 1 menjelaskan PKWT memiliki durasi maksimal kontrak 5 tahun.

4. Berapa Gaji Karyawan IT Outsourcing?

Mengutip dari Timedoor, gaji karyawan IT outsourcing sangat beragam dengan rentang antara Rp 5-35 juta per bulan, tergantung pada posisi, level keahlian, dan penempatannya.

5. Apa yang Dibutuhkan Industri Keuangan dari IT Outsourcing?

Industri keuangan  membutuhkan IT outsourcing untuk berbagai keperluan seperti memenuhi kepatuhan regulasi, menjaga keamanan siber, mencegah fraud, mengakses spesialis di bidang tertentu, mempercepat time-to-market, hingga meningkatkan skalabilitas dan efisiensi biaya.

Artikel Terkait