Staff augmentation adalah proses menggunakan jasa talenta atau profesional eksternal tanpa harus merekrutnya menjadi karyawan full-time.
Perusahaan yang mampu merekrut karyawan penuh waktu memang akan berdampak positif pada pembentukan kultur kerja dalam jangka panjang. Hal ini berlaku baik untuk peran spesifik pada divisi yang sudah ada, atau pada divisi yang masih baru.
Namun, nyatanya membentuk dan melatih divisi yang terampil dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan akan memakan waktu yang lama. Selain itu, merekrut talenta terbaik tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Oleh karena itulah model staff augmentation hadir untuk menjadi alternatif karyawan tetap, setidaknya sampai perusahaan benar-benar mampu merekrutnya.
Key Takeaways
- Staff augmentation merupakan model rekrutmen di mana perusahaan tidak perlu merekrut karyawan tetap secara penuh waktu.
- Perusahaan tetap memiliki kontrol atas cakupan proyek, deskripsi pekerjaan, dan standar kualitas.
- Model ini berbeda dengan IT outsourcing yang mana proses pengerjaannya berada di bawah kendali dan pengawasan vendor
Apa Itu Staff Augmentation?
Staff augmentation adalah model perekrutan yang fleksibel di mana perusahaan bisa menggunakan jasa profesional eksternal.
Biasanya proses perekrutan ini bersifat sementara untuk mengisi gap keterampilan yang ada di divisi perusahaan tersebut.
Model ini juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tim tanpa harus mengeluarkan biaya rekrutmen untuk karyawan.
Pada praktiknya, talenta eksternal yang sudah direkrut akan bekerja sama dengan tim internal perusahaan. Namun, perusahaan akan tetap mengatur prioritas, alur kerja, dan capaian hasilnya.
Praktik ini juga berbeda dari outsourcing, yang mana umumnya perusahaan akan menyerahkan proses kerja dan capaian hasilnya ke penyedia tenaga outsourcing.
Kenapa Perusahaan Membutuhkan Staff Augmentation?
Perusahaan kerap kali dihadapkan pada situasi yang membutuhkan tindakan atau implementasi cepat, tapi sayangnya tidak memiliki SDM atau dana yang memadai.
Sebagai contoh, suatu perusahaan teknologi mungkin membutuhkan seorang developer dengan tech stack tertentu untuk menyelesaikan dan meluncurkan proyek tertentu.
Namun, karena divisi IT-nya masih belum mendukung, serta skala perusahaan yang juga masih kecil, maka mau tak mau merekrut talent eksternal menjadi pilihan yang logis.
Staff augmentation sendiri sangat lumrah di industri teknologi dan startup untuk mengatasi kurangnya talent teknologi di industri yang kian bertumbuh ini.
Hal itu diperkuat oleh laporan dari Komdigi yang memproyeksikan bahwa Indonesia akan membutuhkan 12 juta talent digital pada tahun 2030 mendatang.
Korn Ferry juga menyebutkan bahwa kurangnya talent IT secara global akan mencapai angka 85,2 juta orang pada tahun 2030 dengan potensi kerugian sebesar 8,5 triliun USD.
Fenomena tersebut tentunya juga akan berimplikasi pada talent war oleh perusahaan dan startup bermodal besar untuk menarik talenta terbaik, sehingga mempersempit akses bagi perusahaan berskala kecil dan menengah.
Manfaat Staff Augmentation
Dengan fleksibilitasnya, staff augmentation menawarkan manfaat lebih dari sekadar membantu di kondisi darurat. Berikut adalah manfaat lain yang bisa Anda dapatkan:
1. Meningkatkan Skalabilitas Perusahaan
Model ini akan mempermudah Anda dalam meningkatkan skalabilitas bisnis dengan cepat dan efisien pada tim/divisi yang sudah ada.
Profesional yang di-hire biasanya dapat beradaptasi dengan ritme kerja, kebutuhan, dan target tim dengan cepat. Jadi, Anda tidak perlu terjebak dalam proses rekrutmen dan pelatihan karyawan baru yang lebih lama.
2. Akses Terhadap Talenta Terbaik
Akses terhadap tenaga kerja terampil adalah salah satu aspek yang sangat diincar perusahaan.
Survei dari Deloitte menunjukkan dari 500 eksekutif perusahaan, 42% responden menyatakan bahwa akses terhadap talent terbaik adalah alasan utama mereka merekrut karyawan dari pihak ketiga.
Partner yang Anda rekrut biasanya memiliki koneksi terhadap rekan-rekannya yang mahir dalam peran dan keterampilan yang lebih beragam.
Dengan begitu, Anda akan mendapatkan akses terhadap talent baru yang sesuai dengan kebutuhan bisnis dan bisa direkrut dengan cepat kapan saja.
3. Menghemat Biaya
Model staffing ini tentunya dapat mengurangi biaya dan waktu yang dikeluarkan saat merekrut karyawan baru.
Biaya yang dihemat tentunya melebihi upah bulanan karena juga meliputi ruang kerja baru, pelatihan, dan berbagai macam benefit/tunjangan lainnya. Penghematan anggaran ini akan semakin signifikan ketika ada deadline dalam waktu dekat.
Dengan staff augmentation, tim Anda bisa langsung mulai bekerja bersama talent yang baru direkrut dengan adaptasi yang sangat cepat.
4. Anda Tetap Memiliki Kontrol
Anda mungkin akan memiliki kontrol yang lebih besar jika merekrut karyawan karena adanya ikatan kontrak. Namun, tentunya biaya yang dikeluarkan juga cukup besar.
Selain itu, jasa penyedia outsourcing cenderung memiliki alur kerja, SOP, dan timeline-nya sendiri yang sangat sulit untuk Anda kontrol.
Namun, sistem perekrutan ini memungkinkan Anda untuk tetap memiliki kontrol atas sistem, arahan, target, dan workflow.
5. Mengurangi Risiko Perekrutan
Salah satu risiko terbesar merekrut karyawan adalah mismatch antara apa yang dibutuhkan perusahaan dengan keterampilan riil pegawai.
Jika jasa profesional yang di-hire ternyata cocok dengan ekspektasi, maka Anda bisa mempertimbangkan untuk merekrutnya secara full-time.
Terlebih lagi Anda dapat menyederhanakan proses yang berkaitan dengan perekrutan karyawan tetap seperti onboarding atau payroll.
Cara Kerja Staff Augmentation
Meskipun prosesnya cenderung lebih mudah dan hemat waktu, nyatanya implementasi staff augmentation membutuhkan perencanaan yang tepat di awal.
Secara singkat, berikut adalah cara kerjanya secara berurutan:
- Kenali kebutuhan Anda.
- Pilih penyedia staff yang tepat.
- Integrasikan staff profesional ke dalam sistem kerja Anda.
- Kelola dan pantau performanya.
- Evaluasi dan sesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Berikut adalah penjelasan lengkapnya:
1. Kenali Kebutuhan Anda
Umumnya perusahaan menggunakan jasa eksternal untuk mengisi gap yang ada di divisi internalnya. Karena itu, kenali kapasitas tim Anda dan tentukan peran dan keterampilan apa yang belum ada.
Tentukan juga secara jelas dan transparan apa saja kualifikasi yang dibutuhkan, pengalaman, durasi pekerjaan, lokasi, dan ekspektasi hasil yang diinginkan.
Selain itu, ada beberapa hal yang bisa Anda perhatikan:
- Biaya perekrutan.
- Fleksibilitas yang ditawarkan.
- Struktur manajemen, pelaporan, dan akuntabilitas.
- Kebutuhan bersifat jangka pendek atau jangka panjang.
- Timeline dan lingkup proyek yang dikerjakan.
2. Pilih Vendor yang Tepat
Umumnya perusahaan akan bekerja sama dengan agensi atau vendor talent yang memiliki akses terhadap profesional yang dibutuhkan.
Guna memilih vendor yang tepat, Anda bisa melakukan riset dan menjadwalkan pertemuan dengan setiap vendor yang ada. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan insight tambahan terkait penawaran dan manfaat yang akan diperoleh.
Anda bisa mempertimbangkan pertanyaan berikut sebelum memilih vendor:
- Apa yang menjadi expertise dan fokus vendornya?
- Layanan apa saja yang ditawarkan?
- Bagaimana vendor mendapatkan talent?
- Apa saja yang membedakan vendor tersebut dengan yang lain?
- Apakah vendor yang dipilih memiliki reputasi yang baik?
3. Integrasikan Staff Profesional ke Sistem Kerja Anda
Agar profesional yang direkrut bisa beradaptasi, ada baiknya untuk mengadakan sesi interview lebih dulu untuk memilih kandidat yang paling cocok.
Setelah itu, barulah Anda bisa mendemonstrasikan ekspektasi proyek, tools yang digunakan, dan ritme kerja. Dengan begitu, staff baru tersebut dapat beradaptasi dengan lebih cepat.
Anda bisa melakukan beberapa hal berikut untuk mengintegrasikan staff profesional:
- Jadwalkan orientasi untuk memperkenalkan visi, misi, tujuan, dan core value perusahaan.
- Perkenalkan terhadap anggota tim internal.
- Bagikan media komunikasi yang sering digunakan tim perusahaan Anda agar proses diskusi dan monitoring proyeknya berjalan lancar.
4. Kelola dan Pantau Performanya
Di model perekrutan ini, perusahaan memiliki kontrol terhadap timeline, tugas yang diberikan, dan pengawasan harian.
Tahap ini sangat penting untuk membangun hubungan dengan staff external baru, yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap kesuksesan proyek.
Berikut ini adalah beberapa tips untuk mengelola dan memantau performa staff eksternal:
- Jadwalkan meeting rutin untuk mendiskusikan progress serta menyelesaikan masalah atau konflik tertentu.
- Gunakan tools atau software manajemen untuk memonitor proyek, berkolaborasi antar tim internal dan eksternal, hingga membuat rencana baru berdasarkan hasil meeting.
- Berikan masukan konstruktif untuk meningkatkan peluang kesuksesan proyek.
5. Evaluasi dan Sesuaikan dengan Kebutuhan Bisnis
Agar hasil yang dicapai bisa maksimal, evaluasi secara rutin menjadi sangat penting. Tentunya akan lebih baik jika proses evaluasi ini berdasarkan hasil analisis data untuk membuat keputusan lanjutan yang akurat.
Anda bisa menggunakan metrik berikut untuk mengevaluasi talent eksternal:
- Waktu penyelesaian proyek.
- Jumlah revisi yang dibutuhkan.
- Persentase proyek yang selesai sesuai deadline.
- Total output dibandingkan dengan kinerja tim internal.
- Biaya dan ROI.
- Total penghematan biaya jika dibandingkan dengan merekrut karyawan tetap.
- Retensi staff, khususnya dalam pembaruan kontrak atau konversi menjadi karyawan tetap.
Perbedaan Staff Augmentation dan IT Outsourcing
Di sektor IT, staff augmentation dan outsourcing merupakan dua model dominan yang sering digunakan perusahaan untuk membawa talenta teknis eksternal ke pekerjaan internal mereka.
Namun, sebenarnya keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Staff augmentation memungkinkan perusahaan untuk menambahkan talent spesialis eksternal langsung ke dalam tim yang sudah ada di bawah aturan dan sistem perusahaan.
Di sisi lain, dengan IT outsourcing, perusahaan akan menyerahkan seluruh proyek dan hasilnya ke vendor pihak ketiga.
Sangat penting untuk memahami perbedaan antara keduanya agar bisa menyesuaikan kebutuhan bisnis. Berikut adalah beberapa aspek yang membedakannya:
1. Kontrol dan Manajemen Sehari-hari
Dengan augmentation, Anda tetap memiliki kontrol penuh mulai dari tugas, prioritas, standar kualitas coding, dan bahkan arahan kerja setiap harinya. Jadi, staff eksternal yang direkrut hanya perlu mengikuti workflow yang sudah ada.
Lain halnya dengan sistem kerja outsourcing di mana vendor akan mengendalikan jalannya proyek.
Klien atau perusahaan mungkin akan menentukan syarat, timeline, dan kontrak proyek di muka. Namun, vendorlah yang menentukan siapa dan bagaimana proyek tersebut dikerjakan.
Meski tidak memiliki kontrol penuh, perusahaan tetap berhak untuk mengkaji jalannya proyek per periode yang ditentukan, sekaligus mengevaluasi hasil akhirnya.
2. Tanggung Jawab Terhadap Hasil
Karena staff eksternal hanya mengikuti arahan perusahaan, tanggung jawabnya tetap berada pada tim manajemen perusahaan.
Talent yang direkrut memang akan menangani eksekusi teknisnya, tapi perusahaanlah yang akan bertanggung jawab pada hasilnya, termasuk jika ada kekeliruan.
Sebaliknya, vendor outsourcing umumnya sudah terikat lewat kontrak untuk memenuhi ekspektasi hasil yang sudah disetujui kedua belah pihak.
3. Struktur Biaya
Staff augmentation biasanya menetapkan struktur biaya berdasarkan berapa lama perusahaan menggunakan jasa staff eksternal serta biaya overhead yang mengikutinya.
Sementara itu, IT outsourcing cenderung mematok harga tetap per proyek dengan target capaian yang jelas.
4. Kecepatan
Spesialis eksternal cenderung lebih cepat untuk terjun langsung ke proyek yang sedang berjalan.
Lain halnya dengan IT outsourcing yang cenderung lebih lama karena membutuhkan persetujuan cakupan kerja yang tertulis dalam kontrak.
Meski demikian, IT outsourcing dapat menyelesaikan proyek dengan relatif lebih cepat dengan hasil yang memuaskan, khususnya bagi vendor besar.
Di sisi lain, staff eksternal mungkin akan sedikit lebih lama karena jalannya proyek harus mengikuti workflow dari perusahaan.
5. Fleksibilitas
Staff augmentation cenderung lebih fleksibel ketika proyek sedang berlangsung. Jika ada perubahan di tengah jalan, perusahaan tinggal mengarahkannya tanpa harus menulis ulang kontrak.
IT outsourcing sendiri lebih cocok pada proyek dengan deskripsi dan target yang jelas, karena kontraknya sendiri terpaku pada hal tersebut.
Namun, IT outsourcing menawarkan skalabilitas yang lebih tinggi karena mampu menangani porsi pekerjaan yang lebih besar.
6. Intellectual Property
Intellectual Property (IP) atau kekayaan intelektual adalah hak kepemilikan atas ciptaan, ide, dan penemuan suatu individu atau kelompok yang dilindungi oleh hukum.
Pada model augmentation, seluruh produk dan kode dibuat di dalam repositori dan sistem perusahaan, dan di bawah arahan perusahaan.
Jadi, seluruh kekayaan intelektual yang terkumpul dan tercipta selama proyek berlangsung berada di bawah hak cipta perusahaan.
Sementara itu pada IT outsourcing, kepemilikan hak cipta harus dibahas secara tuntas untuk mencegah kesalahpahaman di kemudian hari.
7. Risiko Kepatuhan
Pada staff augmentation, talent yang dibawa akan bekerja berdampingan dengan divisi internal perusahaan menggunakan software dan sistem kerja yang sama.
Namun, kontrol penuh pada model ini pula yang perlu dikelola hati-hati secara legal, di mana staf rekrutan tersebut bisa saja dipandang sebagai bagian dari perusahaan.
Regulasi outsourcing di Indonesia sendiri memiliki batasan hukum yang lebih jelas dan didefinisikan sebagai alih daya pada UU No. 13/2003 jo. UU No. 11/2020 (Cipta Kerja) jo. PP No. 35/2021.
UU tersebut mendefinisikan alih daya sebagai pengalihan pekerjaan tertentu berdasarkan perjanjian tertulis antara perusahaan alih daya dan perusahaan pemberi kerja.
8. Integrasi ke Kultur Kerja Perusahaan
Staff eksternal memang direkrut untuk bisa berbaur dengan kultur dan gaya komunikasi tim yang sudah ada sebelumnya.
Sementara itu, IT outsourcing bekerja di bawah naungan mereka sendiri mulai dari proses, tools, hingga budaya kerja.
Guna mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, berikut ini adalah tabel perbandingannya:
| Indikator | Staff Augmentation | IT Outsourcing |
| Konsep | Talent eksternal bergabung dan bekerja bersama tim internal perusahaan | Vendor eksternal yang akan mengelola jalannya proyek dengan tim mereka sendiri |
| Kontrol | Perusahaan yang mengarahkan tugas, prioritas, dan eksekusi harian | Vendor yang menentukan proses dan menyelesaikannya, perusahaan yang memberikan review |
| Akuntabilitas/Tanggung jawab | Sepenuhnya pada perusahaan | Vendor yang bertanggung jawab lewat kontrak tertulis |
| Struktur biaya | Dihitung berdasarkan jangka waktu (per jam/hari/bulan) | Harga tetap per proyek |
| Kecepatan untuk memulai pekerjaan | Onboarding lebih cepat dalam hitungan hari | Agak lebih lama karena membutuhkan kontrak tertulis di depan |
| Kecepatan untuk menyelesaikan pekerjaan | Bergantung pada sistem kerja, manajemen, dan software perusahaan | Bisa lebih cepat untuk proyek berulang |
| Fleksibilitas | Cukup tinggi karena talent bekerja layaknya staff internal, sehingga manajer bisa meminta perubahan tanpa perlu negosiasi ulang | Bergantung pada keputusan vendor, karena beberapa perubahan dalam proyek bisa menambah biaya dan memicu pembaruan kontrak |
| Skalabilitas | Bagus dalam merekrut spesialis baru dengan cepat | Bagus dalam menangani proyek besar dalam satu waktu |
| Intellectual Property | Sepenuhnya milik perusahaan | Harus dinyatakan secara jelas dan tertulis dalam kontrak |
| Integrasi tim | Staff eksternal harus beradaptasi dengan workflow, tools, dan budaya kerja perusahaan | Vendor bekerja dengan alur dan ritmenya sendiri |
Staff Augmentation Vs IT Outsourcing: Mana yang Lebih Unggul?
Kedua model ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga cukup sulit untuk mengatakan salah satu lebih baik dari yang lain.
Namun, artikel ini akan memberikan beberapa indikator untuk membandingkannya:
1. Transparansi dan Kejelasan
Jika perusahaan Anda membutuhkan persyaratan yang sudah tersusun rapi di awal dan tidak akan berubah-ubah sampai proyek berakhir, maka IT outsourcing adalah pilihan yang tepat.
Namun jika perusahaan sedang mengerjakan produk early-stage dengan pasar yang masih shifting, maka staff augmentation lebih cocok karena mampu mengakomodir perubahan dengan lebih fleksibel.
2. Manajer Teknis
Augmentation hanya akan bekerja dengan baik jika perusahaan memiliki pimpinan atau manajer teknis yang kompeten. Manajer harus bisa memberikan arahan, prioritas, dan standar kualitas yang jelas.
Jika perusahaan memang belum memiliki SDM yang memadai untuk kebutuhan tersebut, maka IT outsourcing dapat mengisi peran tersebut sebagai bagian dari kontrak.
3. Urgensi dan Timeline
Jika perusahaan sedang urgent untuk mendapatkan staff teknis segera, maka staff augmentation adalah pilihan yang tepat karena bisa langsung bekerja dalam jangka waktu singkat.
Di sisi lain, IT outsourcing akan lebih cocok jika perusahaan membutuhkan hasil akhir yang lebih terjamin tanpa harus terburu-terburu.
4. Perkiraan Biaya
Augmentation bisa menjadi pilihan bagi perusahaan yang mengutamakan transparansi kinerja staff yang bisa diaudit setiap saat.
Sementara, perusahaan dengan aturan budget yang ketat cenderung memilih outsourcing karena memberikan perkiraan biaya yang mudah diprediksi dengan struktur harga tetap.
Deloitte pernah melakukan survei bahwa jumlah eksekutif perusahaan yang menyebut penghematan biaya sebagai faktor utama outsourcing turun dari 70% pada 2020 menjadi 34% pada tahun 2024.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa keputusan sourcing karyawan lebih didorong oleh akses talenta dan kualitas, bukan sekadar murah atau mahalnya biaya.
Perlu dicatat pula bahwa biaya yang lebih terprediksi belum tentu lebih murah, hanya saja struktur biayanya akan memberikan kepastian di awal.
5. Keamanan Data
Staff augmentation dianggap relatif lebih aman karena seluruh lingkup pekerjaannya berada di dalam sistem, lingkungan, dan pengawasan perusahaan.
Namun, hal ini bukan berarti IT outsourcing cenderung kurang aman. Hanya saja, perusahaan membutuhkan persetujuan legal tambahan di kontrak terkait perjanjian IP, penanganan data, dan syarat keamanan.
6. Skala Perusahaan
Jika skala perusahaan masih cukup kecil, khususnya startup fase awal tanpa tim teknis yang mumpuni, maka outsourcing adalah pilihan yang tepat.
IT outsourcing memiliki teknis manajerialnya sendiri yang tidak dimiliki augmentation atau perusahaan tahap awal.
Seiring bertumbuhnya perusahaan dan mampu merekrut manajer teknis, maka staff augmentation bisa menjadi pilihan yang cocok.
7. Kebutuhan Terhadap Skill Tertentu
Ketika perusahaan membutuhkan talent dengan skill khusus untuk mengisi gap yang ada di divisi internal, maka Anda bisa mendapatkannya dengan cepat lewat model augmentation.
Lain halnya jika perusahaan membutuhkan skill multidisipliner untuk proyek hulu ke hilir, maka IT outsourcing adalah pilihan yang lebih efisien.
| Kondisi | Pilihan Terbaik | Alasan |
| Kontrak yang stabil dan spesifik | IT Outsourcing | Vendor bisa mengeksekusi target secara efisien |
| Kondisi proyek bisa berubah-ubah seiring waktu | Staff Augmentation | Tidak perlu negosiasi ulang jika ada perubahan |
| Perusahaan memiliki manajer teknis | Staff Augmentation | Manajer dapat memberikan brief yang jelas |
| Tim/divisi IT perusahaan masih terbatas | IT Outsourcing | Vendor yang akan menangani seluruh operasional harian |
| Butuh engineer teknis mendesak | Staff Augmentation | Vendor dapat menyediakan talent dalam hitungan hari |
| Butuh capaian hasil yang efektif | IT Outsourcing | Vendor akan membuat rencana dan mengeksekusinya sesuai dengan target |
| Perusahaan harus menyelesaikan proyek dari awal sampai akhir | IT Outsourcing | Vendor yang akan mengerahkan seluruh tenaga IT untuk menyelesaikan proyek |
Kesimpulan
Staff augmentation merupakan model perekrutan yang memungkinkan perusahaan untuk merekrut talent eksternal secara sementara dengan tetap mempertahankan kontrol atas kualitas dan workflow.
Baik staff augmentation atau IT outsourcing sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sesuai dengan konteks dan kondisi yang dihadapi perusahaan.
Oleh karena itu, perusahaan harus mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan dan urgensi yang sedang dialami sebelum memutuskan untuk menggunakan salah satu jasa tersebut.
Wujudkan Solusi IT Jangka Panjang Bersama Lawencon!
Augmentation mungkin bagus untuk mengisi posisi teknis yang sedang lowong di divisi internal dalam jangka pendek.
Namun, jika perusahaan sedang merencanakan proyek jangka panjang, maka IT outsourcing adalah salah satu pilihan terbaik.
Beruntungnya, Lawencon menyediakan beragam solusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda.
Mulai dari front/back-end development, business analyst, technical writer, QA software tester, project administrator, data analyst, system analyst, hingga scrum master.
Dengan tim IT yang berpengalaman selama bertahun-tahun dan teknologi terkini, Lawencon siap melayani transformasi digital untuk mendukung pertumbuhan bisnis Anda.
Jadi, tunggu apa lagi? Segera hubungi kami sekarang juga!
Frequently Asked Questions (FAQ)
1. Bagaimana Cara Mengarahkan Staff Augmentation?
Pengarahan staff eksternal hampir mirip dengan tim internal yang meliputi onboarding terstruktur, komunikasi yang jelas, dan workflow yang seragam.
2. Apa Itu AI Augmented Staff
AI augmented staff adalah spesialis AI eksternal yang bergabung ke dalam divisi/tim internal yang bekerja langsung di bawah arahan perusahaan.
3. Apa Bedanya Staff Augmentation dengan Consulting?
Staff augmentation memiliki spesialisasi dalam mengeksekusi pekerjaan tertentu dalam perusahaan, sedangkan consulting lebih berfokus pada dukungan konsultasi dan rekomendasi.
4. Tantangan Apa yang Sering Dihadapi Pada Staff Augmentation?
Beberapa tantangannya adalah onboarding yang tertunda, masalah komunikasi, kurangnya cultural fit dengan tim yang sudah ada, hilangnya kesempatan transfer ilmu/keahlian, risiko keamanan, dan kurangnya transparansi vendor.
5. Apa Saja Perbedaan Jenis Staff Augmentation?
Jenisnya biasanya dibedakan berdasarkan skill, durasi, proyek, dan lokasi.