Read Time: 13 minute(s)

6 Alasan Perusahaan Membutuhkan Cloud Migration

Gradient-Circles
Circles
Isi Artikel
Bagikan artikel:
6 Alasan Perusahaan Membutuhkan Cloud Migration
Isi Artikel
Bagikan artikel:

Cloud migration adalah proses pemindahan data perusahaan dari server fisik ke infrastruktur cloud computing yang bersifat publik.

Proses ini sangat bermanfaat karena dapat mengeliminasi beban perusahaan untuk membeli dan memelihara unit server yang mahal.

Perusahaan yang telah melakukan migrasi cloud juga cenderung lebih berpotensi dalam memaksimalkan nilai dan valuasi perusahaan.

Laporan dari Mckinsey yang berjudul “Cloud-migration opportunity: Business value grows, but missteps abound” (2021) menyebutkan adanya potensi nilai bisnis sebesar 1 triliun dollar dari perusahaan di seluruh dunia jika mereka beralih ke cloud.

Namun, proses transisi ke sistem cloud tentu bukanlah hal yang sederhana karena ada banyak faktor yang harus diperhatikan

Key Takeaways

  • Migrasi cloud biasanya dilakukan dengan menggandeng perusahaan outsourcing IT dengan menggunakan vendor cloud seperti Google Cloud, AWS, atau Azure.
  • Infrastruktur cloud modern umumnya sudah dilengkapi enkripsi canggih dan teknologi AI untuk mendeteksi adanya serangan siber dini.
  • Ada 6 strategi migrasi yang paling umum yaitu rehost, replatform, refactor, repurchase, retain, dan retire.
  • Autentikasi multifaktor sangat disarankan agar proses migrasi bisa berjalan aman dan lancar.

Apa Itu Cloud Migration?

Migrasi cloud atau sering disebut sebagai migrasi awan adalah proses memindahkan seluruh aset digital perusahaan dari server fisik lokal (on-premise) ke server berbasis internet yang yang disediakan oleh provider layanan cloud computing.

Aset digital yang dimaksud bisa berupa data, aplikasi, software, workload, dan seluruh sumber daya IT milik perusahaan.

Penyedia layanan cloud computing yang memfasilitasi migrasi ini biasanya didominasi oleh perusahaan teknologi raksasa seperti Google Cloud, Amazon AWS, atau Microsoft Azure.

Karena ada banyak sekali vendor cloud computing, maka migrasi cloud juga berarti memindahkan data perusahaan dari satu vendor ke yang lain.

Dengan melakukan transisi ke komputasi awan, seluruh data akan disimpan dan dikelola oleh penyedia layanan cloud dengan enkripsi yang canggih.

Lain halnya dengan server on-premise yang membutuhkan banyak biaya pemeliharaan dan pengadaan, perusahaan hanya perlu membayar biaya langganan tiap bulan ke provider cloud computing yang digunakan.

Mengapa Perusahaan Harus Melakukan Cloud Migration?

Data dari Amazon Societal Impact Report (2023) menunjukkan bahwa kira-kira baru 29% perusahaan di Indonesia dari segala skala/lini yang sudah menggunakan teknologi berbasis cloud.

Hal tersebut menunjukkan bahwa adopsi cloud masih kurang familiar di dunia bisnis dan profesional di Indonesia.

Padahal, transisi ke  infrastruktur cloud bukan suatu formalitas belaka, tapi juga sebagai bentuk modernisasi dan transformasi digital.

Perusahaan yang masih berkutat pada server fisik akan kesulitan dalam meningkatkan skala bisnis, menjaga keamanan data, dan memelihara hardware yang mahal

Namun, cloud computing akan membuat seluruh hal tersebut menjadi lebih efisien, sehingga perusahaan bisa fokus pada kebijakan-kebijakan strategis.

Berikut adalah alasan perusahaan harus melakukan migrasi cloud

1. Menciptakan Ruang Fleksibilitas Bagi Perusahaan

Jika perusahaan Anda mengandalkan server fisik, maka Anda harus membeli hardware baru dengan waktu pengadaan yang lama.

Semisal sewaktu-waktu perusahaan mendapatkan lonjakan order dalam waktu singkat, maka keadaan ini akan mempersempit ruang gerak bisnis untuk menangkap peluang tersebut.

Hambatan tersebut bisa diminimalkan dengan melakukan transformasi ke sistem cloud, karena kebutuhan untuk pemeliharaan server secara praktis akan tereliminasi.

Selain itu, bisnis bisa dengan leluasa berekspansi tanpa harus khawatir server yang overload.

Proses upgrade storage atau RAM pada cloud computing juga bisa dilakukan dalam beberapa klik, sehingga tidak akan ada waktu yang terbuang sia-sia.

2. Mencegah Overload

Pada praktiknya, perusahaan yang bergantung pada server on-premise kerap mengalami crash (downtime) yang berakibat aplikasi jadi tidak bisa digunakan sama sekali.

Sebagai contoh, sistem HRIS dan payroll di perusahaan yang menggunakan server lokal berpotensi mengalami overload di akhir bulan karena banyaknya karyawan yang mengakses modul HRIS secara bersamaan.

Di saat yang sama, staff HR dan finance mungkin juga sedang menghitung payroll dan pajak, sehingga server akan semakin terbebani yang membuatnya crash.

Oleh karena itulah cloud computing sangat membantu, terutama dengan fitur auto-scaling yang akan menambah unit Virtual Machine (VM) secara otomatis ketika penggunaan sudah mencapai batas ambang tertentu.

3. Menghemat Biaya Secara Signifikan

Biaya pengadaan dan pemeliharaan server fisik biasanya mencakup hardware, listrik yang menyala 24 jam, AC ruangan server, lisensi, UPS, dan tenaga IT maintenance.

Perusahaan bisa memotong ongkos tersebut secara signifikan, karena provider cloud akan mengurus semua faktor tersebut dan sudah termasuk ke dalam biaya langganan.

Risiko biaya overhead akibat downtime server juga bisa diminimalkan, karena vendor raksasa seperti AWS atau Google Cloud memiliki data center berkapasitas raksasa.

Berikut adalah tabel perbandingan komponen biaya antara on-premise dan cloud:

Komponen BiayaOn-PremiseCloud
HardwareBeli di muka, refresh setiap 3-5 tahun sekaliTidak ada, sudah termasuk dalam biaya langganan
Listrik dan pendinginDitanggung penuh oleh perusahaan dan harus menyala selama 24/7Ditanggung provider
Lisensi OS/softwareBeli terpisah dan berulangDibayar sesuai pemakaian aktual tiap bulan
UPS dan backup powerBeli dan rawat mandiriDitanggung provider
Tenaga ITMembutuhkan tim IT internal full-timeDikelola otomatis oleh provider
Ruang fisikPerlu ruang khusus untuk server, rak, dan kabelTidak perlu
PengadaanWaktu tunggu cukup lama saat beli hardware baruUpgrade storage/RAM cukup dengan sekali klik.
Model pembayaranButuh modal besar dimuka (CapEX)Biayanya berkala sesuai pemakaian (OpEX)
Risiko downtimeAda risiko kegagalan hardware mendadakSangat minim karena didukung oleh data center raksasa.
BackupPerlu infrastruktur baruTergabung dalam layanan, serta berjalan secara otomatis dan real-time
Waktu implementasiCukup lama, mulai dari pengadaan sampai instalasi fisikCukup cepat karena ada provisioning langsung dari panel, walau ada banyak yang harus dipertimbangkan

4. Sistem Keamanan yang Canggih

Satu serangan DDoS berupa lonjakan trafik bisa membuat sistem bandwidth kantor kewalahan seketika.

Masalah itu bisa diatasi dengan Infrastruktur cloud modern yang cenderung memiliki standar enkripsi yang canggih untuk mencegah potensi serangan siber yang tidak dikenal.

Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mendeteksi ancaman peretas lebih awal, terlebih dengan adanya teknologi AI yang terdapat pada sistem komputasi awan modern.

5. Meningkatkan Efisiensi Operasional

Dengan server lokal, tim IT perusahaan akan cenderung disibukkan pada tugas-tugas repetitif seperti memperbaiki komponen hardware yang rusak.

Tetapi, setelah transisi cloud dieksekusi, divisi IT perusahaan bisa terbebas dari pekerjaan-pekerjaan monoton untuk lebih fokus pada pengembangan inovasi digital terkini.

Hal tersebut jadi memungkinkan karena seluruh proses maintenance sepenuhnya dilakukan oleh penyedia cloud, sehingga perusahaan tidak perlu khawatir akan terjadinya downtime karena kerusakan pada hardware.

6. Memungkinkan Kolaborasi Antar Divisi yang Komprehensif

Setiap divisi pada perusahaan yang masih menggunakan server on-premise biasanya menyimpan data pada hard-drive mereka masing-masing.

Dengan memanfaatkan teknologi cloud, semua data dari setiap divisi kini menjadi tersentralisasi, memungkinkan setiap tim untuk mengakses sumber data tunggal yang akurat.

Dari situ, tiap divisi bisa berkolaborasi untuk menciptakan rencana, strategi, dan inovasi berdasarkan data yang sama dan transparan.

Tahapan Cloud Migration

Migrasi dari on-premise ke cloud memerlukan pertimbangan dari berbagai faktor.

Berikut ini adalah tahapan cloud migration beserta apa saja yang harus dipertimbangkan:

Penilaian

Pertama-tama, perusahaan harus menilai dan memeriksa aset IT apa saja yang tersedia seperti hardware, software, serta penyimpanan dan data.

Setelah itu, output dan workload dari setiap aset tersebut baik pada waktu normal dan peak-period untuk mencegah pembelian fitur cloud yang kurang mendesak nantinya.

Perencanaan

Tahap perencanaan memerlukan pertimbangan dari berbagai faktor seperti:

  • Tujuan: Perusahaan harus menetapkan tujuan bisnis/teknis secara jelas seperti memenuhi kepatuhan regulasi atau mempercepat perilisan siklus perilisan fitur.
  • Migrasi berkala: Transisi ke cloud tidak bisa dilakukan secara tuntas dalam waktu singkat, yang karenanya Anda harus membagi perencanaan migrasi dalam beberapa sesi.
  • Pemilihan vendor: Ada beberapa pilihan vendor terkemuka seperti Google Cloud, AWS, Microsoft Azure, Alibaba Cloud, CTI Group, dll.
  • Mitigasi risiko: Risiko yang harus dimitigasi contohnya adalah data yang hilang/korup, penurunan performa, atau downtime berkepanjangan.
  • Timeline: Perusahaan hendaknya menetapkan sejumlah milestone dalam timeline yang sudah ditentukan untuk mempermudah proses pelacakan migrasi.

Pemilihan Strategi

Setidaknya ada 6 strategi untuk melakukan migrasi menuju sistem cloud, di antaranya:

  • Rehost.
  • Replatform.
  • Refactor/Re-architect.
  • Repurchase.
  • Retain.
  • Retire.

Strategi ini akan dijelaskan lebih jauh di bagian selanjutnya.

Migrasi

Barulah di tahap ini migrasi bisa dieksekusi secara berkala sesuai dengan yang sudah direncanakan sebelumnya.

Pengujian dan Validasi

Migrasi tidak selesai sampai tahap eksekusi saja, karena Anda masih harus menguji dan memvalidasi hasilnya.

Guna mempermudah prosesnya, Anda bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai indikator pengujian:

  • Apakah semua fitur utama bisa berfungsi tanpa error?
  • Bisakah aplikasi dan software yang dipindahkan terhubung dengan sistem pembayaran?
  • Apakah proses loading pada cloud bisa lebih cepat dibanding saat memakai server fisik?
  • Bagaimana sistem cloud yang digunakan bereaksi pada simulasi serangan siber seperti DDoS?
  • Apakah seluruh database yang dipindahkan sesuai dengan yang original sampai ke detail-detailnya?

Sinkronisasi dan Monitoring

Sinkronisasi bertujuan agar pengguna bisa langsung diarahkan ke server cloud baru, alih-alih ke server on-premise yang lama.

Di tahap ini, tim IT harus secara aktif memonitor kelangsungan sistem secara real-time seperti latensi API, atau memastikan kecepatan permintaan kueri saat workload sedang tinggi-tingginya.

Strategi Cloud Migration

Migrasi cloud membutuhkan strategi untuk menentukan apa yang harus dipindahkan, bagaimana setiap aplikasi harus beradaptasi dengan sistem baru, dan kapan harus mengeksekusi transisinya. 

Berikut adalah 6 strategi migrasi yang paling umum digunakan:

1. Rehost

Strategi ini berorientasi pada migrasi aplikasi yang ada secara langsung menuju cloud, yang biasanya dilakukan menggunakan IaaS (Infrastructure as a Service). 

Rehost cocok ketika:

  • Server fisik perusahaan sudah sangat usang dan sudah harus transisi secepat mungkin.
  • Ada deadline dalam waktu dekat.
  • Perusahaan membutuhkan infrastruktur IT yang minim biaya dan risiko tanpa harus mengubah kode aplikasinya.

2. Replatform

Replatform membutuhkan sedikit modifikasi pada aplikasi sebelum dipindahkan, dengan tetap mempertahankan arsitekturnya secara garis besar.

Strategi Replatform cocok ketika: 

  • Ingin mengurangi biaya overhead.
  • Database perusahaan harus dikerucutkan.

3. Refactor

Metode ini melibatkan desain dan penulisan ulang kode internal aplikasi supaya bisa menggunakan seluruh fitur yang ada pada cloud secara utuh.

Refactor cocok untuk: 

  • Perusahaan membutuhkan skalabilitas maksimal.
  • Aplikasi yang dipindahkan harus tersedia setiap saat, sehingga harus diadaptasikan dengan sistem cloud secara menyeluruh.

4. Repurchase

Sesuai namanya, repurchase berarti mengganti aplikasi on-premise yang sudah ada dengan aplikasi SaaS (Software as a Service) yang berbasis cloud.

Dengan kata lain, sistem atau aplikasi lama akan berhenti digunakan secara total dan akan sepenuhnya digantikan dengan aplikasi cloud.

Repurchase cocok ketika:

  • Aplikasi on-premise sudah ketinggalan zaman.
  • Perusahaan membutuhkan transformasi secara cepat.

5. Retain

Retain berarti mempertahankan sebagian aplikasi atau software on-premise secara spesifik, sementara yang lain tetap dipindahkan ke cloud.

Pendekatan ini cocok ketika:

  • Adanya aturan hukum yang mensyaratkan bahwa data/informasi tertentu harus tetap berada  di server fisik/lokal.
  • Aplikasi on-premise sudah hampir kadaluarsa, sehingga tidak terlalu penting untuk dipindahkan.

6. Retire

Retire berarti mengidentifikasi dan mematikan aplikasi, server, atau data yang sudah tidak dibutuhkan lagi, sehingga tidak perlu dipindahkan ke cloud.

Strategi ini cocok ketika:

  • Perusahaan ingin menghemat biaya.
  • Infrastruktur IT perusahaan sudah overloaded, yang karenanya beberapa aplikasi harus dimatikan secara permanen.

Bagaimana Menilai Kesiapan Perusahaan Sebelum Cloud Migration

Walaupun migrasi ke komputasi awan merupakan proses yang penting dan strategis, hal itu tidak berarti perusahaan bisa langsung melakukan transisi tanpa mempertimbangkan kondisi internal.

Perusahaan harus menganalisis kesiapannya terlebih dahulu sebelum mengadopsi sistem cloud untuk mencegah celah keamanan dan pembengkakan biaya di kemudian hari.

Ada sejumlah indikator yang bisa Anda gunakan untuk menilai kesiapan perusahaan:

1. Infrastruktur

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  • Audit aset dan hardware seperti server fisik, kapasitas RAM dan CPU, serta bandwidth jaringan.
  • Penggunaan penyimpanan sepanjang waktu baik saat periode puncak maupun reguler.
  • Identifikasi hardware mana yang segera membutuhkan pembaruan, dan mana yang bisa diganti di kemudian hari.

2. Aplikasi

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  • Buat list bertingkat untuk mengkategorisasi aplikasi apa saja yang paling penting dan yang kurang penting untuk pemasukan bisnis.
  • Evaluasi aplikasi mana saja yang bersifat monolitik dan modular.
  • Tentukan strategi cloud migration yang paling cocok untuk setiap aplikasi.

3. Data

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  • Kelompokkan data berdasarkan struktur dan volume.
  • Bedakan antara data aktif transaksional yang membutuhkan penyimpanan cloud berkecepatan tinggi dan data arsip yang hanya butuh biaya rendah.

4. Keamanan

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  • Pastikan perusahaan memiliki sistem autentifikasi multi faktor.
  • Tetapkan protokol enkripsi untuk data yang transit dan yang menetap.
  • Rencanakan mitigasi risiko seperti memasang firewall untuk jaringan.

5. Kepatuhan Terhadap Regulasi

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  • Pastikan provider cloud yang dipilih sudah mematuhi hukum di Indonesia.
  • Audit sertifikat regulasi wajib seperti  PCI-DSS, HIPAA, atau regulasi cloud computing lain yang berlaku di Indonesia

6. SDM Internal Perusahaan

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  • Pastikan staff IT internal perusahaan memiliki kompetensi di bidang arsitektur dan keamanan cloud.
  • Jangan ragu untuk menggunakan jasa perusahaan IT outsourcing terbaik untuk menangani eksekusi dan meminimalisir risiko jangka panjang.

7. Biaya

  • Bandingkan biaya antara memelihara server on-premise dengan biaya langganan cloud untuk mengevaluasi ROI dan penghematan anggaran ke depannya.
  • Hitung perkiraan biaya migrasi mulai dari biaya langganan, lisensi, hingga konsultasi dengan IT outsourcing.

Cara Menjaga Keamanan Agar Cloud Migration Berjalan Lancar

Laporan dari “Data Breach Investigation” yang dirilis Verizon pada 2025 menunjukkan bahwa pencurian kredensial mencakup 22% dari seluruh jenis peretasan data.

Temuan tersebut cukup relevan untuk menunjukkan bahwa keamanan data memiliki risikonya sendiri yang tidak boleh diremehkan, khususnya pada saat cloud migration.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan guna menjaga keamanan saat proses migrasi data sedang berlangsung:

1. Tetapkan Mindset Zero Trust

Zero trust berarti Anda tidak boleh mempercayai setiap proses dan laporan yang terjadi begitu saja. 

Seluruh permintaan akses baik dari user atau aplikasi harus diverifikasi setiap waktu, tidak peduli asalnya.

2. Enkripsi Data Secara Menyeluruh

Data baik yang dalam transit atau yang menetap harus dienkripsi secara terpisah.

Enkripsi ini bersifat wajib dan harus menjadi standar saat melakukan migrasi.

Enkripsi data juga bertujuan untuk mematuhi UU No.27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi yang mana perusahaan wajib menjamin kerahasiaan dan keamanan data karyawan, nasabah, atau pengguna.

3. Gunakan Autentikasi Multifaktor

Sistem keamanan berbasis password saja kini sudah tidak lagi relevan karena rentan terhadap pencurian token atau spam prompt.

Sebagai gantinya, hendaknya perusahaan menggunakan autentikasi multifaktor yang dapat menghentikan pencurian kredensial atau fake login dengan kriptografi canggih.

4. Terus Lakukan Monitoring Setelah Migrasi

Monitoring di sini harus mencakup perubahan, update terhadap regulasi terbaru, serta laporan adanya peretasan data.

Ada baiknya proses monitoring langsung dipraktikkan sejak migrasi dieksekusi secara sistematis, agar nantinya beban di kemudian hari tidak terlalu menumpuk untuk diperiksa secara manual.

Kesimpulan

Cloud migration adalah proses penting bagi perusahaan untuk menciptakan operasional yang lebih efisien, optimal, dan hemat biaya.

Selain itu, mengadopsi infrastruktur cloud juga membebaskan perusahaan dari beban operasional yang kurang bernilai secara bisnis agar bisa fokus ke langkah strategis.

Dengan pemilihan strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan keamanan yang mendalam, perusahaan bisa lebih leluasa untuk bertumbuh dan berekspansi dalam jangka panjang.

Migrasikan Seluruh Aset Digital Perusahaan Anda Bersama PT Lawencon Internasional

Memindahkan data dan aplikasi perusahaan ke sistem cloud bukanlah hal yang mudah, karena membutuhkan tenaga IT yang kompeten dan harus tersedia setiap saat.

PT Lawencon Internasional dapat menyediakan tenaga IT seperti DevOps, system, dan data engineer, yang handal dalam menangani migrasi cloud.

Anda juga bisa mendapatkan layanan optimalisasi infrastruktur cloud baik yang public, private, maupun hybrid, sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Jadi tunggu apa lagi? Segera gunakan layanan IT Outsourcing dari PT Lawencon Internasional untuk mengeksekusi migrasi ke cloud computing yang mulus dari awal sampai akhir.

Hubungi Kami sekarang juga!

Frequently Asked Questions (FAQ)

1. Berapa Lama Cloud Migration Berlangsung?

Proses migrasi umumnya berlangsung selama 2 minggu hingga 24 bulan, bergantung pada ukuran/skala bisnis dan juga kompleksitas sistem. Semakin banyak aplikasi ukuran data yang dipindahkan, maka prosesnya akan semakin lama untuk memastikan keamanan dan validasi.

2. Apa Saja Tools untuk Migrasi ke Cloud?

Beberapa tools ternama yang bersifat native contohnya adalah Azure Migrate, AWS Application Migration Service, dan Google Cloud Migration Center. Lalu ada juga yang bersifat multi-platform seperti Carbonite Migrate, IBM Turbonomic, AppDynamics, atau Dynatrace.

3. Berapa Kisaran Biaya Migrasi Cloud?

Untuk usaha skala kecil dan menengah biasanya berkisar antara Rp5-30 juta untuk memindahkan aplikasi/website dasar serta beberapa basis data untuk disesuaikan dengan jaringan cloud. Sedangkan skala perusahaan besar (enterprise) umumnya bisa menghabiskan ratusan juta untuk merancang ulang aplikasi secara total dan pemrosesan data skala besar.

4. Apakah Ada Cloud Storage yang Gratis?

Google Drive atau Microsoft OneDrive sebenarnya juga bisa dikategorikan sebagai cloud provider yang menawarkan paket gratis dengan penyimpanan sebesar 5-20 GB.

5. Bagaimana Cara Migrasi dari Satu Cloud ke Cloud yang Lain?

Secara garis besar alurnya sama seperti memindahkan dari server on-premise. Hanya saja, prosesnya akan lebih mudah karena sudah ada API dan sumber daya IT yang terstruktur.

Artikel Terkait

15 Contoh Cloud Computing di Era Modern