Read Time: 20 minute(s)

Software Architecture: Pengertian, Pola, dan Atribut Kualitas

Gradient-Circles
Circles
Isi Artikel
Bagikan artikel:
Software Architecture Pengertian, Pola, dan Atribut Kualitas
Isi Artikel
Bagikan artikel:

Software architecture pada dasarnya adalah cetak biru (blueprint) yang paling fundamental dari sebuah sistem perangkat lunak.

Dengan kata lain, arsitektur inilah yang akan memandu bagaimana sebuah sistem dibangun, dikalibrasi, dan dipelihara dari hulu ke hilir.

Biasanya, yang bertanggung jawab dalam mengepalai perancangan arsitektur perangkat lunak adalah software architect atau senior technical lead yang sudah berpengalaman selama bertahun-tahun.

Beberapa perusahaan memiliki tim IT-nya sendiri yang mampu menangani arsitektur rumit yang fundamental, tapi tidak sedikit juga yang menyerahkannya ke software development outsourcing.

Tanpa perencanaan yang tepat, pengembangan blueprint software akan menciptakan sejumlah masalah akumulatif yang besar di kemudian hari, atau sering disebut sebagai technical debt.

Technical debt ini dapat berupa loading lambat, potensi pembobolan data, hingga penulisan ulang kode yang sangat mahal. Jika terlambat disadari, maka kebocoran-kebocoran ini bisa bertambah besar dan sulit diperbaiki.

Oleh karena itulah artikel ini akan membahas software architecture secara lengkap mulai dari pengertian, tujuan, pola, atribut kualitas, serta perbedaannya dengan software design.

Key Takeaways

  • Software architecture akan menentukan seluruh jalannya pengembangan software seperti komponen apa saja yang saling berinteraksi atau fitur apa saja yang ingin ditambahkan.

  • Karena sifatnya yang sangat abstrak dan menjadi blueprint, maka rancangan arsitektur software akan sangat sulit dan mahal untuk diubah.

  • Ada sekitar 6 pola atau pendekatan yang umum digunakan dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis yaitu layered, microservices, monolithic, Event-Driven Architecture (EDA), Client-Server Architecture, dan Microkernel

Apa Itu Software Architecture?

Software architecture adalah perencanaan rancangan paling dasar dari sebuah sistem software yang mencakup struktur, komponen, serta keterkaitannya yang akan menentukan bagaimana software bisa bekerja dan berkembang.

Rancangan inilah yang akan memandu interaksi antar komponen dalam sistem untuk memastikan hasil akhir software yang kokoh dan bisa beradaptasi dengan skalabilitas tinggi.

Karena lebih berfokus pada interaksi antar komponen seperti API Gateway atau Data Warehouse, Arsitektur software tergolong ke dalam desain tingkat tinggi atau High-Level Design (HLD).

Hal ini juga berarti bahwa perancangan sistemnya bukan berorientasi pada implementasi kode secara spesifik, yang tergolong ke desain tingkat rendah atau Low-Level Design (LLD).

Tujuan Software Architecture

Bisa dibilang arsitektur perangkat lunak adalah faktor utama penentu kesuksesan pengembangan suatu software, yang akan memengaruhi performa dan pemeliharaannya.

Karena proses perencanaannya banyak melibatkan konsep dan komponen abstrak yang saling bergantung satu sama lain, maka rancangannya akan sangat sulit dan mahal untuk diubah di kemudian hari.

Oleh karena itulah software architecture setidaknya memiliki 3 tujuan utama yang dapat mendukung keberhasilan peluncuran suatu software:

1. Membuat Struktur Kerja

Pengembangan software membutuhkan banyak sekali perencanaan dan keputusan. Sementara itu, pembuatan arsitekturnya adalah salah satu tahapan yang paling awal.

Rancangan arsitektur ini akan sangat sulit untuk diubah tanpa mengkompromikan aspek lainnya.

Karena itulah arsitektur perangkat lunak bertujuan untuk membentuk struktur atau kerangka pengembangan software yang paling fundamental.

Struktur akan menentukan jalannya pengembangan software dari hulu ke hilir seperti interaksi antar komponen, transfer data, dan sumber daya yang digunakan.

Selain itu, struktur juga menetapkan batasan yang tidak boleh dilewati setelahnya. Jika rancangannya sudah dibuat, maka implementasinya harus beroperasi dalam batasan yang sudah ditentukan.

2. Menetapkan Ekspektasi Software

Sistem atau software yang bagus bukan hanya sekedar bekerja dengan baik, tapi juga mampu beroperasi sesuai dengan keinginan stakeholder.

Hal ini membuat tim developer harus menetapkan ekspektasi software yang sesuai dengan kebutuhan stakeholder, yang mana hanya bisa dicapai dengan merancang arsitektur yang tepat.

Contohnya, stakeholder menginginkan software toko online untuk memudahkan konsumen. Maka, tim developer dapat menetapkan fitur dan logika bisnis seperti order, invoice, atau shipping.

Dari situ, developer bisa menetapkan ekspektasi seperti pesanan harus bisa diproses kurang dari 200 milisekon, atau software tersebut harus bisa menampung puluhan ribu pengguna secara bersamaan tanpa crash.

3. Menjadi Roadmap Bagi Semua Pihak

Setiap pihak baik developer, staff operasional, manajer, dan stakeholder perusahaan pasti memiliki pandangan yang berbeda-beda pada suatu sistem.

Karena itulah software architecture bertujuan untuk memberikan roadmap bersama yang jelas agar semua pihak bisa mendiskusikan setiap aspeknya.

Roadmap juga menjadi hal yang krusial bagi project manager, khususnya dalam memperkirakan komponen apa yang harus dibuat, biaya yang dikeluarkan, dan jadwal eksekusi setiap prosedurnya.

Jika arsitektur yang dibuat memang sangat komprehensif, maka rancangannya bisa digunakan lagi untuk proyek pengembangan software yang lain, terlebih bagi software dengan basis teknologi yang serupa.

4. Mencegah Pembengkakan Technical Debt

Consortium for Information & Software Quality (CISQ) pernah merilis laporan di tahun 2022 tentang bagaimana technical debt yang diakibatkan buruknya kualitas software dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa kerugian akibat software berkualitas buruk di Amerika Serikat naik dari 2,08 triliun dolar di tahun 2020 menjadi 2,41 triliun dolar di tahun 2022.

Dari angka tersebut, sekitar 1,52 triliun dolar ternyata merupakan technical debt yang terakumulasi seiring waktu.

Kerugian tersebut sangat berkaitan erat dengan kualitas software architecture yang buruk dan kurang dipersiapkan dengan baik, alih-alih karena bug atau keterlambatan memenuhi deadline.

Laporan tersebut menyiratkan bahwa arsitektur software yang dirancang dengan teliti dari hulu ke hilir bertujuan untuk mencegah akumulasi technical debt yang sangat memberatkan operasional bisnis di masa depan.

Manfaat Software Architecture

Merancang arsitektur software memang merupakan suatu keharusan untuk menciptakan sistem yang dapat dipelihara dan dibesarkan skalanya dalam jangka panjang.

Namun, prosesnya bukanlah suatu formalitas belaka, karena nyatanya banyak manfaat baik langsung atau tidak langsung seperti berikut:

1. Membantu Memenuhi Kebutuhan Bisnis

Rancangan arsitektur sistem  juga berfungsi dalam menyediakan framework untuk menjembatani kebutuhan bisnis dengan eksekusi teknis.

Guna memenuhi kebutuhan bisnis, Anda harus tahu terlebih dahulu bagaimana cara memanfaatkan sumber daya perusahaan yang ada untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus meminimalisasi risikonya.

Carnegie Mellon University merumuskan pendekatan Cost-Benefit Analysis Method (CBAM) yang dapat menilai dan membandingkan manfaat bisnis terhadap biaya dan risikonya.

Metode ini dapat membantu perusahaan dalam menciptakan keputusan yang lebih akurat, khususnya dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas saat mengembangkan dan memelihara software architecture.

Ada 6 tahapan sederhana yang bisa dilakukan dalam mengeksekusi CBAM:

  • Tentukan apa saja skenario dan strategi arsitektur yang tepat.
  • Lakukan evaluasi bagaimana strategi yang ditentukan bisa memengaruhi atribut kualitas secara positif.
  • Hitung manfaat atau nilai yang diberikan dari setiap atribut kualitas seperti performa atau keamanan untuk setiap strategi.
  • Buat perkiraan biaya dan timeline untuk setiap pilihan yang ada.
  • Analisis daya tarik setiap pilihan yang bisa dilakukan dengan membandingkan antara manfaat/nilai dengan biaya/risiko.
  • Dari setiap strategi dengan biaya dan manfaatnya masing-masing, tentukan strategi mana yang paling cocok dengan kebutuhan perusahaan.

Dari hasil analisis CBAM tersebut, perusahaan bisa memilih strategi arsitektur perangkat lunak mana yang layak untuk dieksekusi berdasarkan biaya operasional, risiko, dan keberlangsungannya.

Dengan begitu, rancangan arsitektur yang akan dieksekusi nanti memiliki potensi yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan bisnis karena sudah melalui analisis CBAM yang komprehensif.

2. Mengurangi Kompleksitas

Arsitektur software dapat memecah permasalahan bisnis yang sangat beragam ke dalam layer atau subdomain kecil yang terpisah-pisah dan terisolasi. Misalnya presentasi, logika bisnis, dan akses data memiliki layer-nya sendiri, sehingga mudah untuk dikonfigurasi

Pemisahan layer ini tentunya bertujuan agar engineer dengan mudah dapat memahami, memodifikasi, dan menguji sistemnya tanpa harus mengalami kelelahan secara kognitif.

Tanpa adanya rancangan arsitektur yang tepat, pengembangan software bisa keluar jalur dan cenderung tidak menyelesaikan masalah bisnis.

Salah satu fenomena yang tidak asing di dunia IT adalah over-engineering, di mana alih-alih memenuhi kebutuhan bisnis, engineer menggunakan teknologi terkini tanpa tahu utilitasnya.

Padahal, over-engineering merupakan hal yang kurang baik untuk bisnis. Penelitian yang dilakukan oleh Marzi (2022) menunjukkan bahwa penambahan fitur atau teknologi pada software tanpa melalui perencanaan yang matang merupakan salah satu faktor utama gagalnya suatu bisnis.

Namun, dengan adanya perancangan system architecture yang tepat akan memastikan rencana yang realistis sekaligus mencegah kerumitan yang tidak penting.

3. Memastikan Keberlanjutan

Efektivitas suatu software salah satunya diukur dari apakah sistemnya bisa dimodifikasi, di-update, dan diperbaiki ketika sudah diluncurkan.

Tanpa adanya panduan yang ketat, desain software akan mengalami architectural drift, yaitu kondisi di mana implementasi di lapangan menyimpang secara perlahan dari rancangan aslinya. Dalam jangka panjang, ini akan menimbulkan technical debt yang membengkak.

Arsitektur perangkat lunak pada dasarnya dirancang untuk mencegah architectural drift dengan memisahkan layer secara baku dan menetapkan interface standar.

Guna memastikan pengembangan software tidak menjauh dari rancangannya, Anda harus mendokumentasikan rancangannya dengan framework yang terstandarisasi seperti ISO/IEC/IEEE 42010.

Standar internasional tersebut menetapkan bahwa blueprint software harus menyelesaikan masalah yang ingin diselesaikan stakeholder perusahaan seperti performa, biaya, keamanan, atau skalabilitas.

Jika diperkuat dengan framework yang tepat, rencana software architecture bisa menghasilkan struktur dan batasan yang jelas, serta dokumentasi yang mudah diakses.

4. Meningkatkan Keamanan Software

Secara struktur, arsitektur perangkat lunak modern sudah beralih ke pendekatan Zero Trust Architecture (ZTA) yang menjelaskan bahwa tidak ada satu pun akses yang bisa diberikan begitu saja ke user.

Ketika seseorang meminta akses, sistem akan mengevaluasi faktor seperti identitas, perangkat yang digunakan, atau lokasi.

Bukan hanya itu, komponen ZTA juga akan menghitung skor kepercayaan secara real-time berdasarkan faktor-faktor yang telah disebutkan.

Protokol ini dapat meminimalkan risiko pencurian kredensial baik dari internal maupun eksternal.

5. Menyederhanakan Pembuatan Keputusan Teknis

Software Architecture berfungsi sebagai kerangka kerja konseptual bersama bagi stakeholder, manajer, dan software developer yang mana semuanya seringkali memiliki masalah yang berbeda-beda.

Bayangkan ada skenario di mana tim developer sedang berdebat untuk menentukan preferensi teknologi yang akan digunakan. Tanpa cetak biru yang ketat, kemungkinan tim tersebut cenderung akan memilih berdasarkan tren atau preferensi pribadi.

Namun, software architecture dapat mencegah itu dengan memisahkan layer data dan presentasi, sehingga tim developer bisa membandingkan berbagai pilihan dan preferensi dengan jernih, lengkap dengan pertimbangan waktu dan biayanya.

Macam-macam Pola Software Architecture

Ada banyak cara untuk menyusun dan mengorganisasi komponen yang berbeda-beda pada blueprint software, yang dalam hal ini disebut sebagai pola software architecture.

Pola-pola ini telah terbukti mampu menyelesaikan berbagai masalah sistem dengan menyusun komponen di dalamnya secara spesifik.

Berikut adalah macam-macam polanya:

1. Layered

Sesuai namanya, pola ini membagi-bagi komponen kode ke dalam berbagai layer yang disusun secara bertingkat.

Setiap layer punya tugasnya masing-masing dan bersifat independen, sehingga developer bisa mengedit kode pada satu layer tanpa memengaruhi layer lain.

Namun, developer bisa mengirim request pada satu layer ke komponen lain pada layer yang sama atau setingkat di bawahnya, tapi tidak bisa ke layer yang di atasnya.

Pada pola ini umumnya terbagi jadi 4 layer:

  • Presentasi: Interface di mana Anda bisa melihat data dimasukkan ke dalam aplikasi.
  • Bisnis: Bertugas untuk mengeksekusi logika bisnis sesuai permintaan.
  • Data Access (Persistence): Berfungsi sebagai media komunikasi antara layer bisnis dan database untuk mengelola bagaimana data dibaca dan ditulis.
  • Database: Berfungsi untuk mengelola kumpulan data.

Kelebihan utama pola ini adalah pemisahan antar layer sehingga engineer bisa fokus memodifikasi komponen tanpa harus mengkhawatirkan apa yang terjadi di layer lain, yang berujung pada efektivitas yang lebih tinggi.

2. Monolithic

Monolithic menggabungkan layer bisnis, database, persistence, dan aplikasi ke dalam satu codebase yang utuh.

Perlu dicatat bahwa pola ini hanya menggambarkan bagaimana sebuah aplikasi dikemas dan diluncurkan, yang mana tidak mencakup penulisan kode di dalamnya.

Walau dianggap kuno, monolitik sebenarnya merupakan default pola arsitektur sejak awal mula kehadiran software itu sendiri, jauh sebelum era cloud computing.

Meski demikian, hal ini bukan berarti monolithic sudah tidak relevan lagi. Saat ini, monolithic sering disebut sebagai modular monolith, yang cocok untuk pengembangan produk tahap awal dan membutuhkan peluncuran cepat.

3. Microservices

Kontras dengan monolithic, microservices membangun software sebagai sekumpulan layanan dengan ketergantungan rendah, serta mampu untuk dikembangkan dan diluncurkan secara independen.

Setiap layanan ini dapat mengelola database yang terpisah untuk mengelola domain-domain bisnis fungsional secara spesifik seperti inventori, katalog produk, atau pengiriman.

Setiap layanan yang ada juga bisa diluncurkan secara independen oleh software developer, sehingga sangat bagus untuk meningkatkan produktivitas dan kecepatan pengiriman.

4. Event-Driven Architecture

Event-Driven Architecture (EDA) adalah pola arsitektur di mana komponen-komponen saling berinteraksi dengan memproduksi, mendeteksi, dan mengonsumsi event tanpa menginterupsi satu sama lain (asinkronus).

Event sendiri merupakan catatan yang berisi perubahan yang telah terjadi di dalam sistem, sehingga event tidak bisa diubah atau dibatalkan.

Namun, event hanya berupa pemberitahuan saja tentang apa yang sudah terjadi dalam kode software, bukan suatu instruksi yang harus dipatuhi.

Kelebihan utama EDA adalah komponen-komponennya baik yang memproduksi atau mengonsumsi event tidak perlu mengetahui keberadaan satu sama lain, sehingga komponen producer bisa langsung merespon user tanpa harus menunggu proses konsumsi event selesai.

Dalam kacamata bisnis, hal tersebut dapat meningkatkan skalabilitas, khususnya dalam hal responsivitas pelanggan/user.

5. Client-Server Architecture

Seperti namanya, pola ini terdiri atas client dan server. Server menyediakan sumber daya seperti data atau file, sementara client yang akan me-request server untuk sumber daya tertentu.

Kelebihan utama pola ini adalah server bisa memusatkan seluruh data dan keamanan yang dapat menyederhanakan pemeliharaan software. Di sisi lain, server juga dapat menangani peningkatan request client dalam skala yang besar.

6.   Microkernel

Microkernel memiliki 2 komponen utama:

  • Sistem inti yang menangani fungsional dasar aplikasi.
  • Modul plugin yang memungkinkan Anda untuk menambah fitur dan mengkustomisasi fungsi.

Sebagai contoh, sebuah software pemutar video atau musik memiliki sistem inti yang menangani fungsi dasar seperti play, pause, stop, atau pengaturan volume.

Namun, seiring perkembangan format audio dan video, developer tentunya tidak menulis ulang kode aplikasi tersebut. Jadi, developer merancang aplikasinya sejak awal agar bisa memasukkan plugin yang dapat menyesuaikan format terkini.

Plugin ini bisa dibuat oleh pihak internal tim developer, atau juga pihak luar. Semuanya bergantung apakah aplikasinya bersifat publik atau tertutup.

Dengan maraknya open-source saat ini, developer cukup diuntungkan karena tidak perlu membuat semua fiturnya dari awal. Developer bisa mengandalkan komunitas global yang mampu membuat tema dan tools yang terkustomisasi.

Tabel Perbandingan Pola Software Architecture

Software Architecture memiliki banyak pola atau pendekatan yang masing-masing memiliki karakteristik, kelebihan, dan tantangannya sendiri. Artikel ini akan menyajikan tabel perbandingannya agar lebih mudah untuk dipahami

PolaKarakteristikCocok Untuk?Tantangan
LayeredMemiliki hierarki layer yang kaku (presentasi, bisnis, persistence, database).Bisnis atau perusahaan yang membutuhkan aplikasi yang mudah dipelihara dalam jangka panjangBeban kinerja yang cukup berat dari banyak layer; risiko over-engineering pada aplikasi sederhana; praktiknya lebih sulit dari teorinya.
MonolithicCodebase tunggal yang menjelaskan packaging dan deployment, bukan struktur kode internal itu sendiri. Mudah untuk dibuat, diuji, dan diluncurkan.Startup fase awal yang membutuhkan aplikasi yang cepat untuk diluncurkan.Sedikit perubahan saja membutuhkan pengembangan dan peluncuran ulang; satu modul gagal bisa membuat seluruh aplikasi crash.
MicroservicesBisa diluncurkan secara independen, dengan setiap modul memiliki data dan fungsi bisnisnya sendiri.Perusahaan yang butuh sistem yang besar dan kompleks serta membutuhkan banyak tim.Sulit untuk menjaga konsistensi data di setiap modul; overhead operasional yang besar.
Event-Driven Architecture (EDA)Terdiri atas komponen-komponen yang berinteraksi secara asinkron tanpa mengetahui apa yang terjadi satu sama lainSoftware yang membutuhkan responsivitas real-timeProses debugging relatif sulit karena satu event saja bisa memicu serangkaian dampak pada berbagai komponen.
Client-Server ArchitectureTerbagi atas klien dan server. Server sendiri akan menyediakan mensentralisasi data, dan klien akan melakukan request pada data tersebut.Kebanyakan aplikasi web, mobile, atau SaaS cocok menggunakan pola ini karena datanya yang tersentralisasi dengan keamanan yang konsisten.Rentan mengalami bottleneck jika kurang diawasi; sentralisasi juga membuat server jadi target utama hacker.
MicrokernelHanya terdiri atas plugin, dan juga sistem inti dengan fungsionalitas minim.Platform produk yang membutuhkan sistem inti yang dapat ditambahkan fitur-fitur opsional.Adanya risiko ketergantungan pada satu plugin; bertambahnya jumlah plugin juga akan membuat sistem makin kompleks.

Atribut Kualitas Software Architecture

Atribut kualitas menjelaskan seberapa baik suatu sistem menjalankan tugas dan fungsinya. Sebuah sistem/software bisa saja memiliki fungsi yang lengkap, tapi dalam praktiknya masih tidak aman atau kurang cepat proses loadingnya.

Artikel ini akan menggunakan indikator-indikator dari standar yang dikeluarkan  ISO/IEC 25010 yang baru direvisi pada tahun 2023.

Namun perlu diingat bahwa bukan berarti semua indikator ini harus dicapai saat merancang blueprint software. Berikut adalah indikatornya:

1. Performa

Performa ditentukan dari seberapa cepat software merespon dan memproses workload dalam sumber daya yang terbatas.

Satuan pengukurannya bisa berupa waktu respon (latensi), atau jumlah data aktual yang berhasil dikirim/direspon per satuan waktu yang ditentukan (throughput).

Atribut ini menjadi penting karena sangat berkaitan dengan responsivitas terhadap user.

Jika suatu sistem lambat untuk merespon workload, maka hal ini bisa memicu berbagai masalah seperti timeout atau penumpukan antrean. Masalah ini tentunya akan berdampak buruk pada user experience.

Pendekatan performa umumnya berupa:

  • Caching: Menyimpan copy dari data yang sering di-request pada memori berkecepatan tinggi seperti RAM atau CDN
  • Load Balancing: Mendistribusikan request web secara merata ke seluruh server backend.
  • Non-blocking Processing: Server menerima request, mengeksekusinya di balik layar, lalu langsung meresponnya di satu waktu.
  • Sharding: Memecah database raksasa ke seluruh server database lokal, agar sistem tidak perlu menelusuri seluruh database untuk menjawab satu query.

2. Skalabilitas

Skalabilitas adalah kemampuan software untuk menangani pertumbuhan jumlah pengguna, volume data, atau transaksi.

Idealnya, skala suatu software ditingkatkan dengan menambah kapasitas untuk memenuhi kebutuhan yang juga kian bertambah.

Peningkatan skala bisa dilakukan secara vertikal, yakni dengan menambah CPU atau RAM pada mesin yang sudah ada. Selain itu, peningkatan skala secara horizontal bisa dengan menambah mesin baru.

Pendekatan untuk atribut ini biasanya berupa:

  • Stateless Services: Semua request diserahkan ke server lokal sehingga mempercepat respon.
  • Message Queues: Antrean yang akan memproses setiap request dengan cepat.
  • Modular decomposition: Sistem dipecah menjadi beberapa layanan sehingga setiap ada gangguan atau bottleneck bisa diperbaiki masing-masing.

Perlu dicatat bahwa atribut ini cenderung lebih mahal dan sulit untuk diterapkan. Karena itulah aspek ini biasanya diurus pada tahap awal perancangan arsitektur.

3. Ketahanan

Suatu software idealnya bisa tetap bekerja optimal dan tahan banting dalam setiap kondisi pada jangka waktu tertentu.

Atribut kualitas ini menjadi penting karena kegagalan sistem yang sulit diprediksi akan mengurangi kepercayaan user, mengakibatkan hilangnya data, dan bisa berdampak langsung pada operasional bisnis.

  • Fault detection: Mekanisme otomatis yang akan selalu memonitor jika ada kegagalan sistem untuk melakukan recovery secara langsung.
  • Component duplication: Komponen sistem diperbanyak agar jika ada komponen yang gagal, maka yang lain akan segera mengganti tanpa mengganggu operasional.
  • Checkpointing: Sistem secara rutin akan menyimpan progress eksekusi, sehingga jika nanti terjadi crash, sistem bisa melanjutkan dari progress yang terakhir.

4. Ketersediaan

Ketersediaan arsitektur software diukur dari seberapa cepat sistem melakukan recovery ketika ada kegagalan.

Berikut adalah beberapa pendekatan arsitekturnya:

  • Rolling deployments: Sistem di-upgrade secara bertahap dalam batch-batch kecil sehingga software bisa langsung diluncurkan dengan cepat.
  • Multi-region replication: Data dan infrastruktur akan dikloning di area geografis yang berbeda-beda untuk menanggulangi risiko seperti bencana alam atau pemadaman listrik daerah.

5. Keamanan

Sistem harus bisa memproteksi data dengan memfilter akses asing yang tidak diizinkan, dan akses resmi yang boleh beroperasi.

Keamanan merupakan salah satu atribut kualitas yang paling penting dan tidak boleh dilupakan karena risikonya sangat besar seperti pembobolan data, kerugian materil, pelanggaran regulasi, dan memburuknya reputasi.

Berikut adalah pendekatan arsitekturnya:

  • Authentication and Authorization: Autentikasi akan memverifikasi siapa user yang mengakses, sedangkan otorisasi akan menentukan apa saja yang boleh dilakukan oleh user.
  • Encryption: Enkripsi, khususnya lewat algoritma kriptografi akan melindungi data sensitif baik saat sedang transit atau saat ditransmisikan.
  • Network Segmentation: Jaringan akan dipecah jadi zona keamanan yang terisolasi, sehingga akan meminimalkan serangan hacker lewat jaringan yang kompleks.

6. Kemudahan Pemeliharaan

Atribut lainnya adalah bagaimana suatu sistem bisa dipelihara dengan mudah dan tanpa gangguan dalam jangka waktu yang lama.

Pemeliharaan atau maintenance di sini bisa mencakup perbaikan bug, penyesuaian terhadap platform atau regulasi baru, hingga peningkatan performa.

Indikator ini menjadi penting karena sebagian besar biaya suatu sistem justru dihabiskan untuk ongoing maintenance setelah suatu software dirilis.

Jika sistemnya sulit untuk dipahami dan dipelihara, maka tentu biayanya juga semakin mahal untuk dipertahankan.

Pendekatan atribut ini meliputi:

  • Modular design: Kode software dipisahkan ke dalam modul independen, sehingga setiap proses maintenance di setiap modul bisa tetap berlangsung secara lokal tanpa bergantung pada modul lain.
  • Coding standards: Penyeragaman format, penamaan, layout, dan desain untuk seluruh codebase agar developer bisa lebih mudah menavigasi setiap modul.

7. Kemudahan Modifikasi

Modifikasi sedikit berbeda dengan maintenance, karena fokusnya adalah pada kemudahan implementasi jika ada perubahan pada software seperti update fitur atau fungsi tanpa mengurangi kualitas yang sudah ada.

Modifikasi ini cukup penting karena sistem yang murah tapi mahal untuk dimodifikasi akan memperlambat kinerja tim engineer seiring waktu.

Berikut adalah pendekatan arsitekturnya:

  • Low Coupling: Modul dirancang untuk fokus hanya pada satu tugas saja untuk mencegah efek berantai di seluruh sistem.
  • Dependency inversion: Komponen bergantung pada interface abstrak daripada implementasi konkret, sehingga mengganti tools akan jadi lebih mudah.

8. Kegunaan

Kegunaan software akan menjadi lebih tinggi ketika user dapat menggunakan dan mempelajarinya dengan mudah.

Atribut ini penting untuk jenis aplikasi yang berhubungan langsung dengan manusia seperti web/mobile apps, yang berdampak langsung pada retensi dan kepuasan pengguna.

Berikut ini adalah pendekatan arsitekturnya:

  • Consistent interaction patterns: Komponen UI dan struktur navigasi aplikasi akan distandarisasi untuk menciptakan user experience yang serupa.
  • Error messages: Sistem akan mengirimkan pesan peringatan jika ada error atau update agar user bisa langsung memahami cara mengatasinya.

Perbedaan Software Architecture dan Software Design

Istilah software architecture  dan software design memang cukup berkelindan, yang membuat keduanya cukup sering tertukar.

Software design adalah proses pembuatan spesifikasi yang akan membantu developer untuk mengimplementasikannya pada software.

Cakupannya lebih ke arah perancangan modul atau komponen tungkal seperti performa, fungsi, atau kegunaannya.

Hal ini tentunya berbeda dari arsitektur perangkat lunak yang berisi struktur fundamental dari pembuatan software yang mencakup keseluruhan modul dan komponen.

Ada banyak lagi perbedaan antara keduanya yang akan dirangkum secara komprehensif pada tabel berikut:

AspekSoftware ArchitectureSoftware Design
CakupanSeluruh sistem, bagaimana komponen-komponen saling berinteraksi satu sama lainModul, kelas, fungsi, atau komponen tunggal secara detail
Kedalaman AbstraksiSangat abstrak dan justru memang sengaja dirancang demikian untuk memperlihatkan gambaran struktur dengan apa adanya.Sangat rendah, sering kali bentuknya adalah tulisan kode yang sebenarnya.
ArtifakDiagram arsitektur, model C4, Architecture Decision Records (ADRs)diagram UML class, diagram ER, pseudocode
AudiensTech leads, stakeholder lintas divisi, bahkan hingga eksekutif bisnis. Audiensnya luas karena harus menyesuaikan dengan arahan perusahaanHanya berkutat pada tim developer/engineer yang bertugas dalam membangun dan memelihara komponen
RisikoCukup besar karena strukturnya sangat fundamental sehingga setiap kesalahan atau perbaikan akan sangat menyita waktu, tenaga, dan biaya.Cukup rendah karena setiap ada kekeliruan bisa langsung direfaktorisasi tanpa memengaruhi seluruh sistem.
Penanggung JawabSoftware architect atau tech leadSenior software developer

Kesimpulan

Software architecture bertujuan dalam menyediakan blueprint pengembangan software secara tuntas untuk diikuti dari awal hingga akhir guna mengurangi risiko technical debt yang semakin besar.

Jika diterapkan dengan prosedur yang tepat, maka perancangan arsitektur ini akan membawa berbagai manfaat seperti memenuhi kebutuhan bisnis atau mengurangi kerumitan proses pengembangan software.

Di sisi lain, software architecture juga memiliki berbagai macam pola dan pendekatan yang harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Agar pengembangan software bisa memenuhi ekspektasi stakeholder, ada beberapa atribut kualitas yang bisa dijadikan acuan, walaupun tidak semuanya mutlak harus dipenuhi.

Butuh Software Architecture dengan Skalabilitas Tinggi? Serahkan ke Lawencon!

Software architect adalah pekerjaan di bidang IT yang membutuhkan keahlian tinggi dengan pengalaman bertahun-tahun.

Data dari Indeed yang terakhir diakses pada 22 Juni 2026 menyebutkan bahwa rerata gaji pokok software architect di Indonesia bisa menyentuh angka Rp12 juta per bulannya. Tentu angkanya bisa lebih mahal bagi architect dengan pengalaman yang lebih lama.

Menyisihkan sekitar 12 juta setiap bulan untuk software architect bukanlah keputusan finansial yang mudah bagi perusahaan, khususnya yang belum berskala besar.

Oleh karena itulah artikel ini menyarankan alternatif yang terjangkau tapi tetap berkualitas, yakni dengan menggunakan layanan software architecture dari PT Lawencon Internasional.

PT Lawencon Internasional adalah perusahaan IT Outsourcing terkemuka yang siap mendukung pertumbuhan bisnis Anda dengan berbagai layanan seperti front/back-end development, IT security, DevOps, project manager, business analyst, dan tentunya software architecture.

Berikut ini adalah manfaat yang akan Anda dapatkan dengan menggunakan layanan dari Lawencon:

  • Akses terhadap talent IT dengan keahlian mendalam pada teknologi terkini.
  • Solusi yang terus up-to-date dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda.
  • Penyelesaian masalah teknis yang cepat dan akurat, sehingga tidak akan mengganggu operasional.
  • Analisis yang tajam dan mudah untuk diterapkan untuk meningkatkan efisiensi bisnis.

Hampir semua sektor membutuhkan software architecture yang dirancang dengan baik mulai dari manufaktur, retail, F&B, hingga pemerintahan.

Oleh karena itu, tunggu apa lagi? Ayo segera Hubungi Kami untuk mendapatkan layanan software architecture terbaik!

Frequently Asked Questions (FAQ)

1. Apakah Pekerjaan Software Architect Cukup Menjanjikan?

Profesi software architect memang tergolong high-demand karena kebutuhan industri terhadap infrastruktur digital yang aman dan berskala besar kian meningkat setiap tahunnya, khususnya bagi perusahaan-perusahaan besar.

2. Tools Apa yang Sering Digunakan untuk Merancang Software Architecture?

Developer umumnya menggunakan tools yang dapat membantu membuat perencanaan, visualisasi, serta dokumentasi komponen dan infrastruktur sistem. Contoh toolsnya adalah Diagrams.net, Miro, Excalidraw, PlantUML, atau IcePanel.

3. Apa Saja Elemen Dasar Software Architecture?

Menurut Richards & Ford dalam “Fundamentals of Software Architecture” (2020), arsitektur software memiliki 4 elemen inti struktur sistem (pola arsitektur), architectural characteristics (atribut kualitas), architectural decision (aturan wajib yang harus diikuti tim), dan design principles (panduan fleksibel yang bisa disesuaikan dengan konteks).

4. Bisakah AI Merancang Software Architecture?

AI hanya membantu merencanakan, menganalisa, dan mengoptimasi sistem. Namun, untuk memvalidasi kebutuhan bisnis masih memerlukan insight dari tech lead, developer, dan stakeholder.

5. Kenapa Software Architecture Penting?

Peran software architecture sangatlah krusial karena menjadi landasan pengembangan software yang paling dasar untuk memastikan sistem bisa dikembangkan dan dipelihara dalam jangka panjang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Artikel Terkait